221 Selasa, 25 Maret 2014 | 09:37:40

Cermati Cara Beli Rumah Berhadiah Reksadana

cermati-cara-beli-rumah-berhadiah-reksadana

Di mata perencana keuangan, skema pembelian rumah dengan bonus reksadana, cukup inovatif. Reksadana berpotensi tumbuh dibanding hadiah lain yang nilainya menurun seiring waktu seperti kulkas atau mobil. Namun, sebelum mengambil tawaran tersebut, silakan cermati hal-hal berikut ini:

Ingat tujuan awal
Jika aksi pembelian rumah itu akan menjadi rumah pertama, Anda lebih baik fokus pada unit rumah yang ditawarkan alih-alih silau oleh hadiahnya. Reksadana dalam jumlah besar sebagai bonus pembelian rumah memang bisa menjadi tambahan portofolio investasi Anda.

Namun, tentu saja, "tak ada makan siang gratis". Pengembang pasti telah menghitung agar pemberian itu tidak mengurangi target margin mereka. Anda bisa menghitung sendiri, apakah harga jual properti senilai itu ditambah bonus reksadana, sebanding dengan nilai properti yang ditawarkan?

Beberapa faktor perlu Anda pikirkan dalam menaksir tawaran harga properti, sudah pas atau sebenarnya overpriced, antara lain lokasi, luas tanah dan bangunan, kualitas bangunan, keterjangkauan dengan fasilitas umum, rekam jejak pengembang, dan sebagainya. Bandingkan dengan tawaran pengembang lain.

Bagi yang berniat membeli sebagai investasi, pastikan Anda telah memiliki rencana lanjutan.

"Apakah hendak menjualnya lagi atau menyewakan. Seberapa besar potensi pasarnya jika dijual lagi atau disewakan," kata Risza Bambang, perencana keuangan OneShildt Financial Planning.

Cermati isi bonus
Anda merasa rumah yang ditawarkan itu sesuai keinginan? Mungkin, ini saatnya bagi Anda memperhatikan isi hadiah. Cermati isi prospektus, aset dasar reksadana, kredibilitas MI, juga kemudahan mengakses perkembangan investasi.

Mike Rini, perencana keuangan MRE Financial and Business Advisory, mengingatkan, aturan penguncian reksadana selama 5 tahun mengindikasikan ada kerjasama antara MI dengan pengembang. Penguncian selama lima tahun membuat nasabah tidak leluasa mengutak-atik reksadana mereka. Padahal, sebagai produk pasar modal, pergerakan reksadana fluktuatif mengikuti pasar.

Untuk itulah, jika dalam perjalanannya imbal hasil yang dicetak reksadana tersebut masih kalah dibanding dengan tingkat bunga KPR yang harus Anda bayarkan, tentu perlu jalan keluar agar kondisinya berbalik. Apakah perlu dialihkan ke tempat lain (switching) atau dicairkan saja (redemption)? Maka, nasabah perlu memastikan lebih dulu, apakah tersedia opsi-opsi seperti itu.

"Perjanjian itu harus terang antara nasabah dan MI," kata Risza.

Optimalkan cara terbaik!
Bagi Anda yang telah mantap membeli rumah dengan skema tersebut, jangan lupa mencari cara terbaik mengoptimalkannya. Mieke menyarankan, jika reksadana tersebut hendak Anda manfaatkan untuk membantu percepatan pelunasan KPR kelak, pilihlah reksadana saham.

Misalnya, cicilan KPR Anda Rp 4,5 juta per bulan selama 15 tahun untuk pembelian rumah tipe 1. Alhasil, total tanggungan KPR Anda sekitar Rp 810 juta. Anda menargetkan, KPR bisa lunas pada tahun kesebelas.

Nilai reksadana Anda sebesar Rp 28,5 juta. Jika dana itu Anda tempatkan di reksadana saham berimbal hasil 20 persen per tahun, 10 tahun mendatang, dana itu berkembang jadi Rp 176,46 juta. Total cicilan yang sudah Anda bayar selama 10 tahun berkisar Rp 540 juta. Dengan demikian, sisa cicilan masih ada sekitar Rp 270 juta. Anda masih membutuhkan sekitar Rp 95 juta untuk melunasi KPR di tahun kesebelas.

Untuk itu, Anda perlu berinvestasi di reksadana saham dengan return 20 persen, yaitu sebesar Rp 248.455 per bulan selama 10 tahun. Dengan begitu, di tahun kesepuluh, jika asumsi hitungan tidak ada yang meleset, Anda telah mengantongi Rp 271,46 juta di reksadana.

Cairkan dana tersebut dan parkir dulu dana itu di deposito bertenor pendek, sembari mengurus percepatan pelunasan KPR. Setelah beres, Anda tinggal bayarkan sisa cicilan dengan dana hasil pengembangan yang sudah Anda amankan itu. Dengan begitu, hadiah reksadana benar-benar produktif dan bisa meringankan kantung.

Selamat menimbang!

Editor    : Latief
Sumber : Kompas

📄 View Comment

Bagikan:

    Artikel Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Referensi