438 Jum'at, 07 Februari 2014 | 10:44:35

Plus Minus Beli Rumah di Pengembang Perorangan

plus-minus-beli-rumah-di-pengembang-perorangan

Seorang karyawan swasta Ali Hanafi harus menunda pindah dari ‘pondok mertua indah’ ke rumah barunya. Pasalnya, ia harus menunggu beberapa bulan ke depan lagi untuk menempati hunian baru di kawasan Depok tak kunjung selesai pembangunan. Ternyata Ali membeli rumah baru tersebut dengan pengembang perorangan. Itulah salah satu kerugian memebli rumah dari pengembang perorangan.

Masalah yang dialami Ali saat ini telah banyak terjadi. Dengan berkembangnya bisnis properti, beberapa orang yang memiliki tanah yang cukup luas ingin menjadi pengembang. Dan tentunya yang dilirik keutungan yang diraih dari pengembang perorangan tersebut.  

Menurut Erwin Kallo, Pakar Hukum Properti, berbisnis di bidang properti dapat saja dilakukan secara pribadi atau perorangan, sepanjang tidak melanggar ketentuan peraturan. Misalnya, di wilayah DKI Jakarta, luas lahan tanah yang akan dikembangkan tidak boleh melebihi 5.000 m2.

“Jika melebihi, wajib memiliki SIPPT (Surat Izin Penunjukkan dan Penggunaan Tanah) yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI atas rekomendasi BPUT (Badan Pertimbangan Urusan Tanah). Ini terdiri atas lintas instansi karena kajiannya dari berbagai aspek,” jelasnya beberapa waktu yang lalu.

Dengan kata lain, untuk perorangan hanya dapat membangun dan menjual rumah dengan luas lahan yang terbangun.

“Jadi, namanya bukan pengembang karena pengembang adalah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan perumahan. Untuk berpromosi atau berpameran tergantung dengan kelayakan bisnisnya,” ungkap Erwin.

Sementara itu, Budi Santoso, Pengamat Properti mengungkapkan pengembang perorangan sering menggunakan prinsip bangun dengan cepat, dan jual dengan cepat.

“Mereka tidak memiliki kewajiban untuk merawat kompleks perumahan ataupun melayani klaim bangunan dari konsumen. Maka, konsumen sering mengalami kesulitan,” katanya.

Tak hanya, tanah yang dibangun oleh pengembang perorangan untuk perumahan kurang dapat dipertanggungjawabkan sesuai tata kota, meskipun telah memiliki IMB (Izin Mendirikan Bangunan), karena hal ini belum disesuaikan dengan rencana pengembangan kota. Ada baiknya Anda mempertimbangkan kembali untuk membeli rumah dari pengembang perorangan karena faktor-faktor tersebut.

Tapi, Anda tak perlu heran, terkadang orang lebih membeli rumah dengan pengembang perorangan. Bahkan tak jarang pengembang perorangan ini belum bekerjasama dengan pihak bank. Sebab sesungguhnya orang tersebut mendapatkan sejumlah keuntungan. Memang, dilihat sekilas, ia rugi karena tidak mendapatkan banyak kemudahan atau fasilitas dari bank, dan hanya punya sedikit pilihan untuk memilih bank pengguyur KPR. Namun, sekali lagi, ada sejumlah keuntungan untuk orang tersebut.

Orang tersebut sudah pasti mendapatkan rumah yang sudah rampung dibangun, bukan yang tengah dibangun. Pun, ia mendapatkan sertifikat jaminan yang sudah dipecah per kaveling. Tak heran kalau ia mendapatkan keuntungan tersebut. Sebab, untuk membiayai rumah yang dipasarkan tanpa kerja sama antara pihaknya dengan pengembang, bank pasti mensyaratkan hal ini: rumah yang diminati sudah rampung dibangun dan sertifikat jaminannya sudah dipecah per kaveling.

Jadi jelas, seseorang yang membeli rumah yang dipasarkan tanpa kerja sama pengembang dengan bank juga mendapatkan keuntungan. Sehingga, menggunakan KPR untuk membeli rumah yang dipasarkan tanpa kerja sama pengembang dengan bank, seseorang mendapatkan kerugian ataupun keuntungan sekaligus.

Di sisi lain, orang tersebut beruntung karena sudah pasti mendapatkan rumah yang telah rampung dibangun, juga mendapatkan sertifikat jaminan yang sudah pecah per kaveling. Bagai dua sisi dari sekeping mata uang, orang tersebut menjala kerugian ataupun keuntungan dari pengembang perorangan.

Namun yang pasti konsumen sebaiknya lebih hati-hati dan jeli dalam membeli rumah baik itu dari pengembang besar maupun pengembang perorangan.

Haryanto
Sumber : Rumah123

📄 View Comment

Bagikan:

    Artikel Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Referensi