95 Senin, 13 Mei 2013 | 10:37:06

Kapitalisasi Properti Tembus Rp 135 Triliun

kapitalisasi-properti-tembus-rp-135-triliun

JAKARTA, KOMPAS.com - Secara umum sektor properti masih akan memperlihatkan pertumbuhan signifikan hingga akhir 2014. Permintaan akan hunian (landed housing), apartemen dan perkantoran masih menunjukkan peningkatan, disertai kenaikan harga yang cukup dramatis. Sehingga mendorong pengembangan-pengembangan baru  memenuhi permintaan tersebut.

Hanya, pertumbuhan harga tidak sepesat tiga tahun terakhir yang bisa mencapai 30 persen per tahun. Saat ini hingga akhir 2014, walau masih terjadi pertumbuhan, namun hanya separuhnya saja, yakni 15-20% per tahun.
-- Panangian Simanungkalit

Hingga April 2013, kapitalisasi pasar yang mampu dicetak sektor properti adalah senilai Rp 135 triliun atau naik 13 persen dari tahun sebelumnya pada periode yang sama (year on year) yang mencapai Rp 120 triliun.

Menurut pengamat properti, Panangian Simanungkalit, stabilitas ekonomi yang ditandai BI rate yang stabil, bergemingnya tingkat inflasi dan investasi asing yang deras mengalir, turut memengaruhi pencapaian positif tersebut.

"Hanya, pertumbuhan harga tidak sepesat tiga tahun terakhir yang bisa mencapai 30 persen per tahun. Saat ini hingga akhir 2014, walau masih terjadi pertumbuhan, namun hanya separuhnya saja, yakni 15-20% per tahun," ujar Panangian kepada KOMPAS.com di Jakarta, Minggu (12/5/2013).

Kenaikan harga tertinggi, lanjut Panangian, mungkin akan terjadi pada sektor perumahan dan apartemen menengah-menengah yang dibanderol Rp 300 juta-1 miliar per unit. Sedangkan untuk properti di atas Rp 5 miliar akan terjadi perlambatan akibat aksi menahan diri (wait and see) dari para pembeli.

 

Faktor Pemilu 2014 yang dikhawatirkan akan memengaruhi juga dianggap Panangian tidak akan mengubah konstelasi bisnis properti secara keseluruhan. Pengaruh langsung akan terjadi hanya pada pasar sekunder. Sementara pasar primer tetap bergeming menunjukkan geliat transaksi yang aktif.

Apalagi saat ini merupakan momentum milik penjual/pengembang alias seller's market. Di mana pengembang mengendalikan pasar. Mereka akan terus membangun selama kebutuhan belum terpenuhi. Berdasarkan data Kementerian perumahan rakyat (Menenpera), backlog perumahan Nasional saat ini sudah mencapai 13,6 juta. Besarnya backlog membuat permintaan rumah baru semakin besar setiap tahunnya.

"Masa-masa pengembang adalah raja mungkin akan mulai meredup pada 2015-2016 nanti, saat pasok membanjiri pasar," ujar Panangian.

📄 View Comment

Bagikan:

    Artikel Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Referensi