676 Kamis, 24 Oktober 2013 | 11:16:12

5 Prinsip Dasar Menyimpan Dalam Gudang

5-prinsip-dasar-menyimpan-dalam-gudang

Banyak dari Anda yang mungkin punya kebiasaan simpan menyimpan barang. Apapun disimpan, bahkan barang yang sudah tak terpakai dan rusak. Koran bekas, piring bekas, kipas angin rusak, hair dryer rusak, sampai barang-barang besar seperti kasur jebol, ranjang rusak, lemari rusak, tripleks bekas renovasi, potongan-potongan kayu, sisa cat, sisa pasir, semen, semuanya disimpan.

Bila ditanya kenapa masih disimpan, gampang saja jawabannya, ”Suatu saat bisa saja barang itu masih bisa berguna dan dipakai lagi.” Nah, hobi simpan menyimpan barang ini sebenarnya salah satu cikal bakal masalah yang seringkali terjadi pada gudang.

Agar rumah tertata rapi dan gudang tak berantakan, ada 5 prinsip dasar dalam penyimpanan yang perlu diketahui. Kelima prinsip ini dikenal sebagai Prinsip 5S yang berasal dari Jepang: Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke. Di Indonesia dikenal sebagai 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin).

Kelima prinsip dasar ’house keeping’ ini banyak diterapkan di sejumlah pabrik, pergudangan, dan perkantoran. Nah, kini mari coba terapkan pada gudang rumah Anda!

Prinsip 1. Ringkas - Apa Yang Boleh Disimpan
Pertanyaan pertama, mengapa harus menyimpan barang ini? Milik siapakah barang itu? Jika jawabannya tak terlalu jelas, ayah tak merasa butuh, ibu juga tidak, anak-anak malah tak tahu barang siapa, segera singkirkan!

Jenis barang seperti ini biasanya termasuk barang-barang tak berguna dan tak bertuan. Segera dibuang atau diloakkan, jangan tunda lagi! Lalu, bagaimana dengan barang-barang koleksi yang sedang tak dipajang?

Ya, barang koleksi seringkali memenuhi gudang, dan mungkin Anda pun tak yakin kapan barang itu akan dipajang lagi. Barang-barang seperti ini bisa jadi dibeli hanya sekadar ingin beli saja saat mampir di toko, tanpa pernah terpikir mau dipajang di mana, atau mungkin termasuk hobi mengoleksi barang tertentu, hadiah-hadiah dari teman atau kerabat.

Perlakuannya tetap sama, Anda yang harus membuat kesepakatan, misalnya barang koleksi/ hobi boleh disimpan secara khusus, dan secara teratur ditampilkan bergantian. Lebih dari itu, sebaiknya disingkirkan atau disumbangkan.

Prinsip 2. Rapi - Menyimpan Dengan Aturan Main
Prinsipnya sederhana, lebih baik sulit mengatur penyimpanannya tapi mudah mencarinya, daripada asal-asalan menyimpan tapi sulit menemukannya kembali. Biasanya Anda tak akan mengalami masalah saat menyimpannya.

Tapi, coba bayangkan setelah beberapa bulan kemudian mencari benda-benda yang tadinya disimpan serampangan, atau disisip-sisipkan ke dalam beragam kotak, bisa jadi butuh waktu lama untuk menemukannya lagi, bahkan sering terjadi akhirnya menyerah dan lebih mudah membeli lagi barang yang dicari tadi.

Tapi, kadangkala barang yang ’hilang’ tadi bisa tiba-tiba muncul saat tak dibutuhkan. Anda jadi terkaget-kaget sendiri, ”Lho, ternyata saya masih punya barang ini ya?” Saran yang perlu dilakukan:

1. Langkah pertama: barang harus dikelompokkan dengan tata atur tertentu, barang pecah belah dipisahkan, barang berat dikelompokkan, barang berukuran panjang dan besar, atau barang pernak-pernik yang kecil-kecil, semuanya harus punya tempat khusus.

2. Langkah kedua: pertimbangkan lokasi dan label identitas barang. Biasakan menetapkan dulu besaran gudang, lalu tetapkan barang mana yang masih boleh disimpan atau mana yang sudah harus disingkirkan.

Jangan pernah mengikuti keinginan hati untuk menyimpan semua barang, karena pada akhirnya gudang tak akan pernah cukup luas. Tahun ini punya satu gudang, tahun depan mungkin garasi saja sudah mulai diganggu barang-barang simpanan lainnya.

Bahkan teras belakang mulai penuh dengan barang-barang, hingga rasanya tak pernah akan cukup. Berikutnya, label akan sangat membantu memastikan apakah suatu barang layak dimasukkan ke lokasi tertentu atau memang harus disingkirkan.

Dengan membuat label, Anda akan memiliki daftar inventaris barang yang akurat, yang membantu Anda memutuskan kapan harus beli, kapan harus singkirkan, dan seterusnya.

Prinsip 3. Resik – Membersihkan Gudang
Gudang selama ini identik dengan tempat yang gelap, kumuh, kotor, lembap, dan bukan tempat yang menyenangkan. Tak heran ruang gudang yang sudah sengaja dibuat, pada akhirnya jadi tempat pembuangan sampah sementara.

Ya, barang-barang yang sebenarnya harus sudah dibuang, tapi masih sayang dibuang, dicampur dengan barang rusak, tak bertuan, atau apapun, ada semua di dalam gudang.

Langkah resik utama adalah miliki alat-alat dan sarana kebersihan. Sapu, kemoceng, serbet/ lap, dan tempat sampah perlu selalu siap di tempat, sehingga kapanpun dibutuhkan, bisa segera dilakukan tindakan membersihkan.

Prinsip 4. Rawat – Secara Rutin Kendalikan Gudang
Rawat adalah tindakan secara rutin dan berkala yang perlu dilakukan. Sebetulnya ini bukan hanya untuk di gudang, di semua ruang dalam rumah pun perlu tindakan pemeliharaan secara berkala.

Bila perlu, siapkan semacam jadwal rutin, apakah seminggu sekali harus dibersihkan, atau ada jadwal tertentu kapan koran bekas, botol bekas, alat-alat rusak harus dijual atau diambil pemulung.

Anda pun bisa membuat semacam daftar periksa, sehingga anggota keluarga lain, seperti pembantu rumah tangga, tahu apa yang harus dilakukan agar gudang tetap dalam kondisi terjaga dan nyaman.

Prinsip 5. Rajin – Jadikan Kebiasaan!
Rajin adalah kebiasaan. Bila sudah demikian, tak ada kegiatan yang menjadi beban bagi Anda, dan praktis semuanya akan dilakukan. Coba perhatikan bagaimana anak-anak menyusun pakaian dalam lemari. Apakah prinsip-prinsip 5 R sudah dijalankan dengan baik dan benar?

Apakah menyimpan celana, pakaian seragam, kaos kaki sudah pada tempatnya? Apakah mereka menarik baju yang dipilih, lalu meletakkan kembali pakaian lain dalam tumpukan yang benar, atau baju ditarik dari tumpukan, sementara baju lain dibiarkan jatuh berserakan tanpa diatur kembali?

Apakah pintu lemari senantiasa tertutup? Prinsip Rajin adalah bagian terakhir yang menjadi kunci, apakah gudang akan selalu dalam kondisi baik atau semua tindakan tadi hanya sekadar semangat yang dilakukan di awal-awal saja, lalu lambat laun kembali ke kebiasaan lama? Anda lah yang harus mengubah diri!

Naskah: Prima Haris Nuryawan
Sumber : Tabloid Nova

📄 View Comment

Bagikan:
Tulis Komentar

4 Komentar

  1. Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
    • Orange-Themes Agustus 29, 12:53

      Ad est audire imperdiet. Cum an docendi assentior. Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

      Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Artikel Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Artikel