152 Senin, 21 Oktober 2013 | 09:15:46

Rumah Rapi Meski Ada Batita

rumah-rapi-meski-ada-batita

“Punya anak batita, jangan harap rumah bisa selalu rapi!” Begitu, kan, yang sering kita dengar? Tidak salah memang, mengingat masa batita dikenal sebagai masa eksplorasi; anak mengembangkan kemampuannya melalui eksplorasi lingkungan. Belum lagi, rasa ingin tahu anak usia 1—3 tahun sedang tinggi-tingginya. Apa pun yang ditemuinya akan dieksplorasi sedemikian rupa. Hampir semua mainan akan diutak-atik si batita. Buku, kertas atau koran disobek-sobeknya pula. Pun isi lemari dikeluarkan dan diacak-acak.

Anak batita juga belajar melalui sensori dan panca indranya. Tak heran jika ia akan membongkar, membanting, mengetuk, atau menggoyangkan benda. Itu semua karena anak ingin tahu, apa akibat dari tindakannya tersebut, seperti apa rasa dan rupanya ketika suatu benda dibanting, digoyang, diketuk-ketuk? Ia ingin tahu isi suatu benda sehingga membongkarnya. Bahkan, ia bisa saja menjilat-jilat atau menggigit benda yang ditemuinya untuk tahu tekstur dan rasanya.

Alhasil, seolah-olah ada kesan, usia batita merupakan usia ”perusak” alias trouble maker. Padahal, begitulah fitrah anak yang senang mengeksplorasi sesuatu. Ingat, lewat media inilah sebenarnya anak belajar, termasuk mengasah kemampuan pancaindranya. Lagi pula kemampuan motorik dan kognitifnya masih terbatas. Sesungguhnya si kecil bukan bermaksud menyobek-nyobek buku, namun karena keterampilan motorik halusnya belum berkembang, akibatnya buku yang dibukanya menjadi teremas bahkan tersobek.
Jadi, benarkah kalau punya anak batita, maka rumah kita tidak akan pernah rapi? Ternyata, enggak juga, kok!

Ada 3 hal penting yang perlu dilakukan orangtua.
Pertama, lakukan pencegahan. Bila tak ingin Blackberry kesayangan rusak karena dicelupkan ke dalam gelas berisi air, ya, jangan taruh di sembarang tempat. Begitu pula jika tak ingin koran dan buku-buku atau majalah menjadi rusak atau berantakan, maka letakkan di tempat yang tak mudah dijangkau oleh si batita.Demikian juga dengan benda berharga maupun berbahaya lainnya, jauhkan dari jangkauan anak.


Kedua, pilih benda atau mainan sesuai dengan usianya. Pilihlah buku yang memang didesain untuk anak usia batita. Selain banyak gambar besar dan sedikit teks, ukuran buku harus besar, terbuat dari bahan yang tebal dan kuat. Dijamin, buku ini lebih tahan banting dibandingkan dengan buku-buku pada umumnya.
Ketiga, mulai usia 2—3 tahun, ajari anak menjaga benda-benda miliknya agar tidak rusak. Entah itu,buku,  mainan, CD film kesukaannya, dan sebagainya. Orangtua dapat mengenalkan bagaimana menyimpan atau merapikan mainan, menyimpan sepatu atau sandal di raknya sehingga tidak berantakan, dan sebagainya. Boleh jadi saat dikenalkan atau diajarkan, anak cuek saja atau diam, tak mengapa. Pasalnya, ingatan anak akan merekam semua yang diajarkan itu. Dengan demikian, bila hal ini dipupuk terus, anak akan menjadikannya sebagai acuan. Dengan kata lain, anak akan menjadikannya kebiasaan. Pada akhirnya, anak pun bisa mandiri. Berikut penjelasan lebih detailnya:


• Buku
1.    Setelah memilih buku yang tepat, sediakan rak buku kecil untuk menyimpan buku-bukunya.
2.    Usai membolak-balik buku, ajak anak untuk menyimpan buku itu kembali pada rak yang disediakan. Ajarkan bagaimana cara menyimpannya, tentu tidak harus rapi dan sempurna, yang penting anak mampu menyimpan buku di rak saja sudah bagus.
3.    Selanjutnya, setiap selesai ”membaca” buku, minta anak untuk menyimpannya sendiri di tempat yang tersedia. Berikan ia bantuan untuk melakukannya. Kelak bila sudah terbiasa, otomatis ia akan selalu melakukan hal tersebut tanpa menunggu permintaan atau perintah lagi.


• Mainan
1.    Pilih mainan sesuai dengan usia anak dan aman. Mainan di usia ini umumnya kuat, aman digigit, bahkan ada yang sengaja didesain tahan banting. Hindari memberikan mainan yang kecil-kecil karena mudah dibongkar dan hilang, selain berbahaya karena ada risiko tertelan. Singkirkan atau jauhkan dari jangkauan anak, benda-benda yang kurang tepat/berbahaya yang dapat dimainkan anak.
2.    Setelah itu, ajari anak menjaga dan merawat mainannya. Tentu bukan dalam arti menjaga barang-barang seperti milik orang dewasa. Paling tidak anak sudah dikenalkan, mainan itu memiliki ”rumah”. Setelah dimainkan, ia harus diletakkan kembali di ”rumahnya”. Berikan contoh bagaimana menaruh mainannya. Setelah itu, minta anak meletakkan mainannya ke keranjang atau tempatnya. Bila ia terlihat diam, orangtua bisa mengarahkannya dengan cara memegang tangan anak, lalu mengambil mainan dan memasukkan ke tempatnya. Puji atau peluklah bila anak mau melakukannya.
3.    Simpan kotak mainan tersebut di tempat yang mudah dijangkau si batita. Dengan cara ini, kelak di saat kemampuan kognitif dan motoriknya telah berkembang, anak dapat melakukan hal ini sendiri. Kebiasaan ini melatih anak untuk teratur dan rapi, serta menanamkan rasa tanggung jawab akan ”kewajiban”-nya membereskan, menyimpan, dan menata mainannya. 


 •  CD Film atau Lagu
Si batita juga sudah memiliki ”koleksi” CD lagu dan film favoritnya, seperti Barney, Thomas and Friends, dan sebagainya. Nah, usai menonton, kenalkan bahwa CD harus disimpan ke dalam rak CD yang tersedia. Caranya, mula-mula anak diminta menyerahkan CD kepada orangtua, lalu orangtua masukkan CD tersebut di dalam kotak CD, setelah itu minta anak memasukkan kotak CD itu ke rak CD yang ada. Begitu seterusnya, lakukan setiap anak usai menyetel CD. Begitu pun ketika anak hendak menyetel CD.


• Sepatu dan Pakaian
Ajari juga si batita untuk menjaga dan menyimpan barang-barang miliknya yang lain, seperti sepatu, pakaian, kaus kaki, topi ditempatnya. Dengan begitu, ketika ia hendak menggunakan sepatu yang diinginkan, ia tak usah mencari-cari karena sudah tahu di mana tempatnya.  Dengan memberikan contoh dan mengajarkan berulang-ulang, diharapkan anak memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga atau menyimpan dengan baik kepunyaannya sendiri.


Nah, kini rumah menjadi rapi tertata kembali setiap kali si batita usai bermain. Duh, senangnya!


Sumber : tabloid nakita

📄 View Comment

Bagikan:
Tulis Komentar

4 Komentar

  1. Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
    • Orange-Themes Agustus 29, 12:53

      Ad est audire imperdiet. Cum an docendi assentior. Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

      Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Artikel Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Artikel