178 Kamis, 20 Maret 2014 | 09:33:41

Ciptakan Kamar Anak yang Nyaman

ciptakan-kamar-anak-yang-nyaman

Memberikan ruangan terbaik bagi buah hati tentu menjadi salah satu keinginan orang tua. Karena itulah, faktor kenyamanan dan daya tarik bagi anak mesti jadi pertimbangan utama ketika ingin menyediakan ruang khusus tersebut. Namun hati-hati, jangan sampai salah dekorasi karena bisa mempengaruhi pertumbuhan psikologisnya.

Terkait dengan dekorasi, kerap ditemukan kamar anak berwarna terang seperti putih atau biru langit. Di lain sisi, ada pula keluarga yang memilih warna agak gelap seperti biru tua atau cokelat gelap.

Tak sedikit pula orang tua yang menambahkan variasi warna dengan gambar tertentu. Misalnya, tokoh kartun seperti Barbie atau Doraemon.

Padahal, warna dan suasana dalam kamar selain bisa menciptakan rasa nyaman, juga penting bagi perkembangan psikologis anak. Bagi Anda yang berniat menyiapkan kamar anak, sebaiknya perhatikan pesan dari  psikolog Ira Adelina, M. Psi. Sebab, warna akan sangat berpengaruh perkembangan buah hati Anda.

Dia menjelaskan, secara psikologis, pemilihan warna kamar anak bisa menstimulasi emosi atau jiwanya. Sebagai contoh, warna cerah bisa mendorong semangat ceria pada anak. Sedangkan warna gelap memberikan emosi sebaiknya.

“Malah di TK (taman kanak-kanak) pakai warna cerah,” tuturnya.

Kendati pewarnaan ini penting, menurut Ira, tetap bukan satu-satunya pertimbangan bagi orang tua dalam mendesain kamar sang anak agar nyaman. Hal lain yang harus diperhatikan adalah perabot dan gambar  di dalamnya. Keduanya juga ikut mempengaruhi kenyamanan anak di kamar. Biasanya, ruang kamar yang terasa penuh memberikan kenyamanan pada anak.

Kemudian soal gambar. Untuk satu hal ini, kata dosen di Universitas Maranatha ini, jangan salah sangka dengan gambar yang diinginkan oleh anak di kamar. Itu bukan sekadar ekspresi jiwa atau minat. Lebih dari itu, ada stimulasi ingin mengimitasi atau meniru model dalam gambar. Stimulasi inilah yang muncul dari anak terkait gambar di kamarnya.

Ira menjelaskan, proses imitasi (modeling) itu mungkin dilakukan oleh sang anak ketika berinteraksi sosial. Apalagi jika anak tersebut mempunyai kakak.

“Apakah itu sesuai dirinya? Justru mungkin (sang anak meniru karena) senang, sehingga hanya meniru tanpa detil,” ujarnya.

Karena itu, pilihan bijak yang ada pada orang tuanya akan sangat membantu menghadirkan kenyamanan dan perkembangan psikologis yang baik.

Sumber : Yahoo News


📄 View Comment

Bagikan:
Tulis Komentar

4 Komentar

  1. Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
    • Orange-Themes Agustus 29, 12:53

      Ad est audire imperdiet. Cum an docendi assentior. Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

      Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Artikel Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Artikel