778 Senin, 17 Februari 2014 | 11:17:05

Kompor Minyak Jelantah: Aman dan Ramah Lingkungan

kompor-minyak-jelantah-aman-dan-ramah-lingkungan

Trauma menggunakan kompor gas elpiji yang bisa meledak? Atau, sewot dengan kompor minyak tanah karena mahal dan susah mendapatkan bahan bakarnya? Jika itu masalahnya, mungkin kompor minyak jelantah bisa jadi solusinya. Tampilan fisik kompor yang satu ini tidak beda dengan kompor minyak tanah pada umumnya. Bentuknya bulat bulat memanjang dengan diameter sekitar 25 cm dan tinggi 30 cm. Juga sama-sama menggunakan sumbu untuk menyalakannya. Jenis sumbunya pun sama dengan yang digunakan pada kompor minyak tanah, yaitu terbuat dari benang yang dipilih menyerupai tali.

Bedanya, kompor yang berat kosongnya sekitar 3 kg ini, menggunakan bahan bakar minyak nabati, yang salah satunya minyak goreng bekas atau lazim disebut sebagai minyak jelantah.

Selain minyak jelantah, kompor ini juga bisa menggunakan minyak nabati lain, seperti minyak goreng curah, minyak jarak, minyak kopra, minyajk kepuh, minyak nyamplung.

Salah satu nilai positip dari kompor ini adalah ramah lingkungan. Selama ini minyak jelantah, yang merupakan limbah minyak goreng, yang dihasilkan oleh rumah tangga lebih sering dibuang ke saluran pembuangan. Dengan memanfaatkannya sebagai bahan bakar, dampak pencemaran lingkungan yang diakibatkannya bisa diminimalisir.

Tidak hanya itu. Gas emisi yang dihasilkan dari pembakaran minyak nabati jauh lebih rendah dibanding dengan minyak tanah. Dalam IPTEK VOICE di website Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI, Safriadi, perekayasa di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) menyebutkan bahwa bahan bakar nabati mampu menurunkan 100% emisi gas buangan Sulfur dan CO2, serta CO sampai dengan 50%.

Pengujian yang dilakukan oleh BPPT terhadap kompor jelantah menggunakan bahan bakar  minyak jelantah menghasilkan gas emisi CO 242,60 ppm, NO2 7,15 ppm, dan SO2 21,58 ppm. Sedangkan batas maksimum yang diperkenankan (PerMen. ESDM No, 47 Thn. 2006) adalah gas CO 626 ppm, NO2 78 ppm, dan SO2 50 ppm.

Rendahnya gas emisi yang dihasilkan oleh pembakaran minyak nabati juga bisa dideteksi dari bau yang dihasilkan saat kompor dinyalakan. Contohnya adalah saat menggunakan kompor di ruang ber-AC selama sekitar 10 menit, sama sekali tidak tercium bau selama kompor menyala maupun sesaat setelah kompor dimatikan. Hal ini akan berbeda jika menggunakan kompor minyak tanah, aroma minyak tanah akan tercium sangat kuat.

Penggunaan minyak nabati sebagai bahan bakar juga lebih aman. Lebih aman karena minyak yang berasal dari tumbuh-tumbuhan memiliki keseimbangan karbon dioksida netral, sehingga tidak berisiko meledak meski pembakaran tidak terkendali.

(Hotmian Siahaan)
Sumber : Tabloid Rumah

📄 View Comment

Bagikan:
Tulis Komentar

4 Komentar

  1. Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
    • Orange-Themes Agustus 29, 12:53

      Ad est audire imperdiet. Cum an docendi assentior. Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

      Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Artikel Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Artikel