116 Jum'at, 10 Januari 2014 | 10:33:50

Rumah Tinggi Ala Suku Korowai

rumah-tinggi-ala-suku-korowai

Ada yang berbeda dari rumah suku pedalaman di tanah Papua ini. Tidak seperti rumah kebanyakan, rumah suku Korowai ini tinggal di rumah pohon yang disebut Rumah Tinggi. Rumah-rumah pohon itu didirikan setinggi 35-50 meter di atas tanah. Rumah tersebut dibangun karena suku Korowai yang hidup di tengah hutan belantara ini harus menghindari nyamuk. Semakin tinggi rumah nyamuk tak dapat menggigit. Selain itu beredar mitos suku Korowai menciptakan tempat bermukim yang tinggi untuk menghindari dari roh-roh jahat. Rumah tinggi itu juga berfungsi sebagai pelindung dari bahaya banjir ketika musim hujan dan benteng ketika terjadi konflik antar suku yang tidak mereka inginkan.

Untuk membangun rumahnya, suku Karowai terlebih dahulu memilih pohon yang sudah berdiri kokoh sebagai pondasi rumahnya. Kemudian menggunduli pucuknya, dan mendirikan gubuk-gubuk teduh. Semua bahan terbuat dari alam, kerangka terbuat dari batang kayu kecil-kecil dan lantainya dilapisi kulit kayu. Dinding dan atapnya menggunakan kulit kayu atau anyaman daun sagu. Untuk mengikat bahan-bahan tersebut, mereka semua menggunakan tali. Dan semua proses pembuatan rumah dilakukan dengan menggunakan tangan. Barang logam satu-satunya yang ada adalah parang atau kapak yang biasa mereka gunakan untuk berburu.

Suku Korowai tak hanya tinggal bersama keluarga, hewan piaraan pun diajaknya hidup bersama di rumah ini. Penduduk yang tergolong kaya biasanya memiliki rumah lebih besar, lengkap dengan ruang tamu, serta lubang api terpisah untuk memasak. Masing-masing rumah ini biasanya ditinggali oleh sepuluh orang lebih. Dan untuk naik ke rumah tersebut mereka harus menaiki  tangga dari ranting dan tali.

Suku Korowai yang tinggal di tenggara Papua. Suku Korowai adalah suku yang baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun yang lalu dan berpopulasi sekitar 3.000 orang. Suku ini ditemukan oleh misionaris Belanda pada tahun 1974 dan dikenal sebagai sebagai satu-satunya suku kanibal yang tersisa di Indonesia

Sumber : Rumahku

📄 View Comment

Bagikan:
Tulis Komentar

4 Komentar

  1. Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
    • Orange-Themes Agustus 29, 12:53

      Ad est audire imperdiet. Cum an docendi assentior. Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

      Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Artikel Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Artikel