120 Jum'at, 06 Desember 2013 | 04:27:50

Pikir Ulang, Sebelum Menyesal Membeli SOHO!

pikir-ulang-sebelum-menyesal-membeli-soho

Bekerja di dalam ruang yang biasa disebut sebagai kantor rumah memang tengah menjadi tren, atau sengaja dikondisikan sebagai gaya hidup sekarang. Praktis dan efisien adalah alasan utama memilih berkantor di dalam properti dengan fungsi ganda seperti ini. Terlebih bagi perusahaan sektor industri kreatif yang menjadi pasar sasaran.

Kalangan properti menyebutnya sebagai small office home office (SOHO), sementara orang kita menyematkan istilah rumah kantor (rukan). Apa pun istilah tepat yang dapat mendefinisikan dua fungsi hunian dan tempat kerja (berkarya) dalam satu ruangan, tampaknya tak penting bila kita justru lebih berkonsentrasi pada unsur keamanan dan keselamatan.

Nah, apakah SOHO, atau rukan yang Anda beli aman untuk ditempati?

Ada baiknya, sebelum Anda berinvestasi dan menggunakan properti jenis ini, memperhatikan beberapa unsur penting sebagai berikut;

SOHO atau kantor rumah harus memenuhi standar yang sama dengan perkantoran konvensional atau modern sekalipun. Di beberapa negara, standar ini mendapat pengawasan yang ketat dalam implementasinya. Tak hanya mengenai keamanan dan keselamatan gedung bangunan, melainkan juga pekerja rumahan.

Di Amerika Serikat, apresiasi atas kompensasi (kesejahteraan) pekerja rumahan sama dengan pekerja kantoran. Mereka mendapat asuransi dan pengacara bila hak-hak mereka dikebiri. Demikian halnya di Inggris, pekerja rumahan diberi informasi yang cukup mengenai hak dan kewajiban, risiko-risiko yang kemudian timbul akibat bekerja di rumah dan juga cara penggunaan peralatan kantor rumah.

Sementara untuk masalah keamanan dan keselamatan bangunan gedung, sebuah kantor rumah haruslah dilengkapi dengan detektor asap, dan ventilasi udara yang cukup dan memadai. Kelengkapan ini terkait dengan kesehatan dan juga keselamatan.

Eropa, khususnya Inggris, telah jauh lebih maju ketimbang Amerika Serikat. Negeri monarki tersebut telah memberlakukan undang-undang untuk melindungi pekerja rumahan.

Chief Operating Officer Workplace Options, Alan King, mengatakan, pemerintah AS memang telah memproduksi kebijakan untuk mendorong dan mengawasi praktek bekerja di rumah para karyawan federalnya pada 2010 lalu, namun sektor swastanya masih belum memiliki standar peraturan yang sebanding.

Siapa yang sebetulnya bertanggung jawab atas penyelenggaraan kantor rumah ini? Tergantung pada siapa Anda bertanya. Apakah kepada pekerja, perusahaan yang mempekerjakan mereka, atau keduanya.

Kate North, Vice President Global Development e-Work.com, sebuah perusahaan yang menyediakan pelatihan berbasis web untuk organisasi dengan pekerja jarak jauh di seluruh dunia, berpendapat bahwa karyawan bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka sendiri. Tidak peduli di mana kantor mereka berada.

"Mereka mungkin tidak memiliki ruang untuk mengatur meja yang tepat dan menemukan posisi yang sangat canggung dalam waktu lama. Orang-orang bekerja dari rumah akan bekerja lebih lama dan perlu diingatkan untuk istirahat dan bergerak kembali," ujar Kate.

Penelitian Universitas Texas baru-baru ini mengungkapkan bahwa rerata pekerja rumahan dimasukkan ke dalam tujuh jam seminggu lebih dari pekerja kantoran. Meskipun mereka mungkin tidak memiliki rekan cerewet yang mengingatkan untuk bekerja kembali, pekerja rumahan juga tidak memiliki siapa pun yang dapat memberitahu mereka kapan harus istirahat dan sekadar menyebut 'hari'.

Di AS, telah banyak kasus pekerja rumahan yang menderita. Pada tahun 2011, dekorator untuk perusahaan ritel  JC Penney yang secara rutin bekerja dari rumahnya di Oregon berhasil mengajukan banding klaim, hanya karena tersandung anjing dan lengannya patah. Lain lagi kasus di New Jersey yang terjadi pada tahun yang sama. AT & T harus membayar kompensasi senilai 1,3 juta dollar AS (Rp 15,3 miliar) kepada suami dari pekerjanya yang meninggal akibat emboli paru setelah duduk di meja kerjanya selama 10 jam penuh.

Pendiri Rat Race Rebellion, Christine Durst, mengatakan, pekerjaan di belakang meja jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan, katakanlah, pekerja di garis manufaktur. Mungkin ada masalah lain yang lebih umum dengan pekerja rumah ketika sakit atau cedera.

Durst menduga orang-orang yang menyiksa punggung mereka atau mempertahankan cedera stres yang berulang di kantor rumah tidak akan terburu-buru untuk memberitahu majikan mereka.

Terlepas dari itu, peningkatan pesat kantor rumah bisa diartikan sebagai lebih banyak perusahaan di seluruh dunia harus bergulat dan berupaya ekstra keras dengan menjaga karyawan mereka aman dan bebas sakit/cedera.

Bagaimana cara mencegah terjadinya hal tersebut? Berikan pedoman keselamatan dan melakukan pemantauan secara periodik dan intensif ruang kerja di rumah. Selain itu perusahaan harus rela berkorban memberikan tunjangan 500 dolar AS (Rp 5,9 juta) sampai 2.000 dollar AS (Rp 23,6 juta) untuk membeli peralatan kerja ergonomis.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Bagikan:
Tulis Komentar

4 Komentar

  1. Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
    • Orange-Themes Agustus 29, 12:53

      Ad est audire imperdiet. Cum an docendi assentior. Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

      Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Artikel Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Artikel