143 Rabu, 27 November 2013 | 12:13:40

Benarkah Konsep Ruang Terbuka Ide Buruk?

benarkah-konsep-ruang-terbuka-ide-buruk

Konsep ruang terbuka atau open plan yang kini banyak digunakan di kantor-kantor di ibukota memang istimewa. Menurut Archdaily.com, konsep tersebut bahkan telah merevolusi dunia arsitektur. Konsep ruang terbuka mampu memberikan kesempatan masuknya cahaya dalam jumlah besar, pemanfaatan ruang semaksimal mungkin, serta mendorong kolaborasi antar pekerja tanpa cara rumit. Selain itu, konsep ini mampu menekan biaya pembangunan karena banyak orang bisa "dipadatkan" dalam satu ruangan.

Namun demikian, ada kemungkinan konsep tersebut juga menyimpan sisi buruk. Sebuah laporan dari penelitian yang dilakukan oleh Jungsoo Kim dan Richard de Dear menyatakan bahwa konsep ruang terbuka juga menyertakan konsekuensi serius. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Environmental Psychology itu menyebutkan, kurangnya "privasi" suara mampu menghasilkan kerusakan kolateral serius. Bahkan, konsep ini pun tidak menghasilkan peningkatan kolaborasi antar karyawan seperti yang "dijanjikan" sebelumnya.

Menurut de Dear, kurangnya ruang pribadi, suara bising, dan kemungkinan meja kita ikut berantakan karena rekan kerja di samping tidak sebanding dengan kurangnya "privasi" suara. Kurangnya "privasi" suara atau mudahnya mendengar percakapan orang lain merupakan unsur paling mengganggu dibandingkan efek buruk lain konsep ruang terbuka ini. Para pekerja yang mengetahui bahwa rekan kerjanya mampu mendengar setiap pembicaraan telepon mampu membuat mereka tertekan, bahkan frustasi.

The Guardian juga mengutip hasil penelitian tersebut. Berdasarkan hasil penelitian mereka terungkap, konsep ruang terbuka secara kategoris berkontradiksi dengan kepercayaan yang diterima dunia industri bahwa tata letak berkonsep terbuka mampu meningkatkan komunikasi antar karyawan dan meningkatkan jumlah tampungan pekerja serta kepuasan kinerja.

Bahkan, untuk kemudahan komunikasi pun kantor berkonsep terbuka sedikit buruk. Bagi sebagian kantor, konsep ini gagal mengimbangi penurunan dampak negatif dari kebisingan dan kurangnya privasi.

Hasil penelitian tersebut tampaknya sejalan dengan hasil laporan yang sudah dipublikasikan sebelumnya dari Gensler. Namun, Archdaily.com menggarisbawahi adanya satu kekurangan penelitian yang dilakukan oleh Kim dan de Dear. Penelitian ini tidak mengikutsertakan kantor yang memiliki konsep ruang-ruang "hybrid".

Kantor-kantor tersebut memiliki ruang-ruang khusus di mana para pekerja dapat bekerja bersama-sama dan bekerja secara pribadi tanpa gangguan orang lain. Kantor seperti ini bisa jadi menjadi "model" terbaru yang bisa dicontoh. Pasalnya, kantor "hybrid" tersebut membuat pekerja dapat memilih lingkungan terbuka atau pribadi untuk mengerjakan tugas tertentu.

Nah, bagaimana pendapat Anda?

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Bagikan:
Tulis Komentar

4 Komentar

  1. Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
    • Orange-Themes Agustus 29, 12:53

      Ad est audire imperdiet. Cum an docendi assentior. Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

      Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Artikel Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Artikel