206 Senin, 21 Oktober 2013 | 05:31:20

Kebutuhan Keuangan Sebagai Lajang

kebutuhan-keuangan-sebagai-lajang

Kalau populasi dunia dibagi jadi lajang dan menikah, kelompok lajang tumbuh lebih cepat. Makin banyak orang memutuskan menunda pernikahan, atau bahkan tidak menikah sama sekali. Mereka sepertinya punya banyak uang dan bebas tanggungan. Ya, lajang tidak harus menanggung beban dan kewajiban keuangan rumah tangga sebesar pasutri. Tapi yang kerap dilupakan orang, mereka–tidak seperti pasutri–tidak memperoleh dukungan keuangan dan emosional dari pasangan dan anak-anak.

Banyak juga lajang yang memiliki tanggungan, mungkin orang tua mereka yang mulai berusia lanjut. Mereka harus menghadapi itu sendiri, tanpa bisa berbagi beban dengan pasangan dan anak-anak.
Karena kesendiriannya itulah lajang harus membangun sendiri jaringan keamanan mereka. Sayang, masih banyak yang tidak melakukannya. Mereka cenderung fokus ke karier dan perkembangan pribadi, lupa pentingnya infrastruktur pendukung keamanan dan kebebasan keuangan.

Kalau Anda lajang dan ingin menikmati hari-hari tua yang aman dan nyaman, rencanakan keuangan Anda!

Terapkan Pendekatan Anda Sendiri
Buatlah perencanaan yang cocok dengan tujuan, kenyamanan, dan toleransi risiko Anda. Waspada. Teliti dulu opsi apa saja yang ada. Kalau ada konsultan profesional, manfaatkan keahliannya. Hindari keputusan keuangan yang tidak sesuai dengan karakter Anda, seperti membeli produk-produk berisiko tinggi saat toleransi Anda rendah. Supaya perspektif rencana Anda tetap utuh dan jelas, jangan terlibat dalam sesuatu yang tidak Anda pahami.

Usai menetapkan strategi, jalankan strategi itu. Tapi ulas opsi-opsi yang ada di tiap titik kritis sepanjang hidup Anda, atau saat Anda merasa perlu mengubah tujuan-tujuan keuangan akibat perubahan situasi dan kondisi.
Lindungi Hidup dengan Asuransi

Banyaknya ragam produk asuransi bisa membingungkan orang awam, tapi yang paling banyak dibeli adalah kover untuk jiwa, kesehatan, dan kecacatan. Kover pula tanggungan Anda, apalagi kalau mereka berusia lanjut dan rentan luka atau penyakit. Semua ini pondasi perlindungan Anda dari risiko yang Anda hadapi sehari-hari.
Bisa juga Anda pilih polis asuransi lain. Perusahaan tempat Anda bekerja atau penerbit kartu kredit mungkin menawarkan semacam kover. Pelajari tiap penawaran polis, lihatlah seberapa cocok manfaatnya dengan kebutuhan Anda. Kalau perlu, tambahkan polis Anda sendiri. Pastikan Anda punya perlindungan hidup yang memadai, sesuai kebutuhan Anda.

Investasi untuk Pensiun
Perencana keuangan berkata, banyak lajang menganggap investasi dan pensiun adalah 2 persoalan berurutan. Kerap tanpa pembeda yang jelas. Lantaran tidak ada anak dan tidak ada pasangan, lajang cenderung punya lebih banyak pendapatan tersisa. Lajang juga kurang butuh sumber pendapatan tambahan selama tahun-tahun produktifnya. Karena itulah mereka berinvestasi untuk mendanai pensiun, bukan demi pendapatan tambahan.
Mengingat estimasi pensiun masih bertahun-tahun lamanya, lajang punya kesempatan lebih baik memanfaatkan kurun waktu itu. Mereka bisa belajar dari kesalahan. Mereka bisa mengamankan aset-aset dengan pengembalian bagus. Atau membiarkan investasi mereka berakumulasi lewat bunga berbunga. Kuncinya dua: mulai sedini mungkin, dan hindari utang berlebihan.

“Kehidupan lajang menawarkan pesona dan kebebasan, tapi orang dewasa yang tidak pernah menikah cenderung berumur lebih pendek dibandingkan teman-teman mereka yang menikah.”
- Jurnal Epidemiologi dan Kesehatan Komunitas

Miliki Real Estate yang Bagus
Pepatah konvensional tentang properti: Lajang menyewa, teman-teman mereka yang menikah membeli. Pepatah itu pernah benar. Tapi kini zaman berubah. Di beberapa negara pemilik rumah berhak menikmati potongan pajak, apalagi kalau ada tanggungan berusia lanjut yang tinggal bersama mereka.

Beli properti tentu menggoda. Tidak ada salahnya juga. Tapi di sisi lain, rumah yang Anda beli itu bisa jadi satu-satunya investasi terbesar Anda. Bagus kalau nilai properti meningkat. Kalau tidak? Kemerosotan pasar bisa mengakibatkan pertumbuhan negatif ekuitas, yang bisa membuat Anda pusing tujuh keliling.

Untuk lajang di beberapa negara, properti menawarkan manfaat tambahan lewat hipotek terbalik (atau hipotek seumur hidup). Dengan hipotek terbalik, Anda akan memperoleh pendapatan bulanan sambil terus tinggal di properti yang Anda miliki itu. Begitu Anda meninggal dunia, properti itu jadi milik kreditur. Fleksibilitas ini memungkinkan Anda menjalani hari-hari tua dengan tinggal di rumah yang telah Anda tempati begitu lama sambil menerima pendapatan. Tentu saja, makin tinggi nilai properti, makin besar pula pendapatan yang bisa Anda peroleh.

Mengenal Hipotek Terbalik
”Hipotek terbalik” benar-benar seperti namanya. Ini metode untuk melepas ekuitas rumah (atau nilai rumah yang benar-benar Anda miliki) lewat sejumlah pembayaran yang diberikan pada pemiliknya, yaitu Anda. Kalau hipotek (atau KPR) adalah proses di mana Anda perlahan membeli rumah sambil terus menempatinya, hipotek terbalik berarti Anda perlahan menjual rumah yang sedang Anda tempati.

Siapkan Dana Darurat
Bahkan kalaupun asuransi sepenuhnya mengkover Anda, menyisihkan dana darurat sebesar 3 bulan gaji atau pengeluaran tetap penting. Dana ini bisa Anda andalkan untuk kebutuhan darurat. Pemrosesan klaim asuransi biasanya butuh waktu, dan yang namanya darurat tentu tidak bisa menunggu lama.

Pun kalau pekerjaan Anda terspesialisasi sehingga butuh waktu lama untuk menemukan gantinya andai Anda kehilangan pekerjaan itu. Atau, kalau Anda harus cuti dari kantor selama beberapa bulan demi pendidikan lanjutan, bepergian, atau mengurus orang tua yang lanjut usia. Supaya Anda tetap lega dan nyaman, antisipasilah semua itu dengan dana darurat sebesar 6 bulan gaji atau pengeluaran.

Andai Sesuatu Menimpa Anda…
Punya wasiat legal itu wajib!
Tulis dalam hitam dan putih bagaimana Anda ingin membagi aset. Andai sesuatu menimpa Anda, seseorang yang Anda percayai–saudara atau teman dekat–punya wewenang untuk membayarkan tagihan atas nama Anda dan memanfaatkan uang Anda untuk beragam tujuan yang memang diperlukan.

Pertimbangkan membuat surat kuasa. Bukan hanya untuk menangani urusan bisnis, tapi juga keputusan medis dan kesehatan Anda saat Anda tidak sanggup memutuskannya sendiri.

Luangkan waktu untuk merencanakannya dengan matang. Usai menata segala urusan, pastikan orang yang Anda beri wewenang itu bisa menanganinya sesuai keinginan Anda kelak, saat–dan andai–Anda tidak sanggup melakukannya sendiri.

Sumber : Mywealth

📄 View Comment

Bagikan:
Tulis Komentar

4 Komentar

  1. Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
    • Orange-Themes Agustus 29, 12:53

      Ad est audire imperdiet. Cum an docendi assentior. Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

      Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Artikel Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Artikel