235 Selasa, 30 Juni 2015 | 10:58:43

Bangun Rumah Rakyat Dulu, Baru Jual Properti Ke Orang Asing

Bangun Rumah Rakyat Dulu, Baru Jual Properti Ke Orang AsingIlustrasi

Setelah diberikannya lampu hijau oleh pemerintah (23 Juni 2015) terhadap kepemilikan properti di Indonesia kepada warga negara asing, hal tersebut membuat banyaknya kontraversi yang bermunculan.

Panangian Simanungkalit, selaku Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI), mengatakan, keabsahan mengenai kepemilikan properti di Indonesia oleh WNA dapat direalisasikan, dengan syarat Program Pembangunan Sejuta Rumah terselesaikan 70 persennya.

“Seharusnya hal ini diselesaikan dengan cepat oleh Presiden Joko Widodo, sebelum Kementrian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) membuang-buang waktu, tenaga, uang dan fikiran untuk mengkaji saran dari REI (Real Estat Indonesia) mengenai kepemilikan properti indonesia oleh warga negara asing,” ujar Panangian.

Jika dalam asas ekonomi yang mengedepankan kerakyatan, maka pembangunan Program Sejuta Rumah harusnya jauh lebih genting dibandingkan kepemilikan untuk orang asing. Hal tersebut dirasa lebih adil bagi masyarakat Indonesia.

Oleh sebeb itu, Jokowi pun harus sigap mengambil tindakan reward dan punishment terhadap para bawahannya. Misalkan dalam jangka waktu enam bulan ini belum ada kemajuan atas pembangunan sejuta rumah, maka seharusnya diadakan evaluasi terhadap kinerja para mentri.

“Sebelum menghalalkan properti di Indonesia untuk orang asing, harusnya pemerintah Indonesia sejahterakan dahulu rakyat Indonesia. Kesejahteraan diukur dari terpenuhinya rumah sebagai kebutuhan primer selain sadang dan pangan oleh setiap masyarakat Indonesia,” ujar Panangian.

Melihat dari minimnya serapan anggaran Kementrian PUPR yang sampai saat ini baru 10 persen dari total anggaran sebesar Rp 116,8 triliun, berdasarkan data anggaran tersebut saja dapat terlihat bahwa Program Sejuta Rumah untuk rakyat dianaktirikan.

"Legalisasi kepemilikan properti oleh orang asing adalah kebijakan yang terburu-buru karena takut bersaing dengan sesama negara ASEAN. Padahal Indonesia belum didukung dari segi infrastruktur dan suprastrukturnya," tandas Panangian.


Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita