329 Kamis, 16 April 2015 | 10:44:21

SE OJK Mempengaruhi Pertumbuhan Asuransi Properti

SE OJK Mempengaruhi Pertumbuhan Asuransi Propertiberitasatu

Selama tahun 2014, berdasarkan SE No. 6/D.05/2013 yang mulai berlaku efektif pada triwulan II-2014, sebagian besar masyarakat masuk kedalam usaha asuransi properti. Menurut catatan  Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) bahwa pertumbuhan terbesar dalam usaha asuransi berada pada bisnis surety bond (penjaminan) yaitu sebesar 105 persen.

Asuransi properti mengalami peningkatan dari tahun 2013 yakni sebesar Rp 12,7 triliun, hal ini dilihat dari terus berkembangnya usaha asuransi properti yang secara nominal pertumbuhan pada asuransi properti harta benda sebesar Rp 3,4 triliun dan pada tahun 2014 asuransi properti sebesar Rp 16,1 triliun.

Anita Faktasia, Ketua Departemen Statistik, Riset dan Analisa AAUI, menjelaskan bahwa premi bruto asuransi umum pada tahun2014 secara keseluruhannya adalah sebesar Rp 56,1 triliun. Dari jumlah keseluruhan ini dapat dilihat ada pertumbuhan sebesar 17,9 persen jika dibandingkan dengan tahun 2013 yakni sebesar Rp 46,8 triliun. Pertumbuhan tersebut secara nominal telah tercatat sebesar Rp 3,4 triliun.

Julian Noor, Direktur Eksekutif AAUI menambahkan bahwa adanya peningkatan pada pertumbuhan usaha asuransi properti di tahun 2014 karena adanya dampak dari Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SE OJK) yang terbit pada tahun 2013. SE nomor 6/D.05/2013 mengenai Penetapan Tarif Premi Ketentuan Biaya Akuisis pada Lini Usaha Asuransi Kendaraan Bermotor dan Harta Benda serta Jenis Risiko Khusus yang meliputi Banjir, Gempa Bumi, Letusan Gunung Berapi dan Tsunami.

Dampak dari SE tersebut maka asuransi properti kian tumbuh bahkan mengalahkan jenis asuransi-asuransi lainnya seperti asuransi kendaraan bermotor yang dalam kurun waktu selama 5 tahun selalu berada di urutan pertama secara nominal. Setelah diberlakukannya SE tersebut pada tahun 2014 menyebabkan sebagian besar masyarakat masuk kedalam usaha asuransi properti.

Peningkatan pertumbuhan asuransi umum yang terjadi di Indonesia ini dipengaruhi oleh adanya pertumbuhan ekonomi, seperti adanya keterkaitan pembangunan kredit di Indonesia, untuk pembangunan sebuah pabrik misalnya tidak akan lepas dari kredit dari sebuah perbankan. Kredit tersebut juga tak akan lepas dari yang namanya asuransi yang dapat menjamin fisik dari pabrik tersebut. Dengan demikian semakin banyak infrastruktur yang dibangun maka akan semakin banyak potensi premi disana, jelas Julian.

Firdaus Djaelani, Kepala Eksekutif Pengawas OJK bidang Industri Keuangan Non Bank (IKNB), menjelaskan bahwa SE ini mengatur mengenai penetapan batas atas dan batas bawah terhadap  tarif premi asuransi kendaraan bermotor, properti, serta jenis risiko khusus seperti banjir, letusan gunung berapi dan tsunami.

Adapun tujuan dari adanya penetapan tarif tersebut adalah  untuk mencegah adanya persaingan tak sehat antara perusahaan asuransi dan reasuransi serta memberikan perlindungan bagi konsumen.

Sedangkan tujuan dari  tarif batas atas ditetapkan adalah untuk melindungi kepentingan masyarakat dari pengenaan premi yang berlebihan (over pricing). Penetapan tarif batas bawah bertujuan untuk mencegah tarif yang tak memadai sehingga dapat menyebabkan perusahaan asuransi tak mampu membayar klaim konsumen.

Sumber: Hukumonline

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita