212 Kamis, 09 Oktober 2014 | 17:16:04

Melonjaknya BBM Picu Momen Ideal Investasi Properti

 Melonjaknya BBM Picu Momen Ideal Investasi Propertifindyourbalance

Perusahaan pengembang PT Prioritas Land Indonesia atau PLI menyatakan planning kenaikan harga BBM mencetus lonjakan inflasi sehingga merupakan saat yang tepat untuk berinvestasi di bidang properti.

“Biasanya kenaikan rerata properti tersebut per tahunnya hanya 5 persen sampai 10 persen, karena adanya penambahan sarana pada rumah atau apartemen yang di pasarkan. Tetapi dengan hadirnya kenaikan inflasi, sebab melonjaknya harga BBM maka peningkatan harga rata-rata properti lumayan besar,” ucap Victor Irawan selaku Komisaris PLI dalam wawancara tertulisnya.

Untuk itu, ia berpendapat bahwa pemerintah alangkah baiknya jika mengambil kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi dikerjakan secara bertahap, agar tidak telalu membebani masyarakat.

Menurutnya, waktu yang ideal untuk berinvestasi di bidang properti adalah ketika menjelang terjadinya lonjakan harga BBM yang diperkitrakan akan dilakukan pada bulan November tahun 2014 ini, atau setelah berlangsungnya kabinet pemerintahan yang baru.

“Sesungguhnya, kita dapat berinvestasi di sektor apapun, tetapi melihat gejala belakangan ini, investasi yang paling aman ialah bidang properti,” ucapnya. Victor berpendapat, hal tersebut antara lain disebabkan nilai properti tidak pernah turun dan resikonya pun lebih sedikit.

Ali Tranghanda Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), sebelumnya meminta kepada pemerintah agar membantu rakyat seperti kelas midel perkotaan agar tidak terjebak dengan minimnya pilihan pembelian properti bagi tempat tinggal.

“Sekarang ini kaum menengah dalam keadaan terjebak dengan ketersediaan tempat tinggalyang ada,” ucap Ali, pada hari Kamis.

Ali mencontohkan, seseorang yang berpenghasilan sekitar Rp 7,5 juta perbulan hanya mempunyai  daya cicil (jika mengambil KPR) sekitar Rp 2,5 juta perbulan.

Ali berujar, dengan kemampuan mencicil tersebut, artinya mereka hanya bisa memiliki rumah dengan kisaran harga Rp 300 juta, tetapi rumah tersebut tersedia dengan jarak yang cukup jauh dari pusat kota.

“Perangkap yang terjadi saat mereka memaksakan membeli rumah itu, karena masih berkehendak memiliki rumah dengan tanah, tetapi mereka harus menambah pengeluaran transportasi menuju tempat kerja,” ucapnya.

Ia menegaskan, perangkap itu terwujud sebab masalah waktu tempuh yang disebabkan kemacetan antara lokasi rumah dengan tempat kerja, sehingga mereka terpakasa meninggalkan hunian tersebut dan memutuskan untuk sewa atau kos di pusat kota.

Oleh karena itu, Ali menegaskan pemerintah meski turun tangan dalam membantu pasokan hunian vertikal di wilayah perkotaan bagi segmwn menengah.

“Karenanya pemerintah mesti segera membuat langkah baru bagi ketersediaan hunian karyawan menengah ini,” ucapnya.

Sumber :  investor daily

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita