223 Jum'at, 04 April 2014 | 09:24:55

Kata Para Caleg Mengenai Tempat Tinggal di Kota

Kata Para Caleg Mengenai Tempat Tinggal di Kota

Derasnya arus perpindahan masyarakat dari desa ke kota membuat kebutuhan akan tempat tinggal semakin meningkat. Namun, keterbatasan lahan di wilayah perkotaan membuat masyarakat kota semakin kesulitan memenuhi kebutuhan papan tersebut. Kalaupun ada, harganya sangat mahal dan terus melambung setiap tahunnya. Menurut survei yang dilakukan Bank Indonesia pada kuartal I-2014, harga properti hunian meningkat lebih tinggi 2,56 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan, kenaikan harga tertinggi terjadi pada rumah tipe menengah, yakni sebesar 3,45 persen.

Sementara menurut laporan Prime Global Cities Index yang dirilis Knight Frank menyebut, Jakarta sebagai pusat pertumbuhan harga properti di Indonesia mengalami kenaikan harga sebesar 37,7% sepanjang tahun 2013.

Imbasnya, banyak orang terpaksa membeli rumah jauh dari tempat kerja, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama ketika hendak beraktivitas menuju kantor.

Berikut pendapat sejumlah calon anggota legislatif terkait permasalahan hunian yang dialami masyarakat perkotaan:

Eva Kusuma Sundari, Caleg PDIP Dapil Jawa Timur VI
Masalah rumah ini sebenarnya kewajiban negara untuk menyediakan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Real Estat Indonesia (REI) tidak hanya berorientasi membangun perumahan yang menguntungkan, tapi juga membangun rumah sederhana bagi masyarakat. Mereka sudah diberi amanat untuk membangun rumah murah sebanyak 10 persen dari total proyek, tapi belum dilaksanakan.

Kedua, pembangunan juga harus tetap menyesuaikan dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) supaya wilayah perkotaan tidak sumpek. Termasuk jangan bangun di ruang terbuka hijau, baik taman maupun lahan pertanian.

Ketiga, Kementerian Perumahan Rakyat harus bekerja lebih maksimal untuk menyediakan perumahan murah layak huni bagi masyarakat. Sebagai regulator dan pihak yang berwenang menjalankan proyek pembangunan rumah tinggal, rasanya kemenpera belum menjalankan amanat yang diberikan.

Taufik Kurniawan, Caleg PAN Dapil Jawa Tengah VII
Kalau solusi, saya berat mengatakannya. Saya kurang memahami. Karena itu kan istilahnya hukum pasar dan harga tanah itu kalau di Jakarta benar-benar terbangun dengan sendirinya. Begitu dibangun bangunan yang bagus, maka harganya juga ikut mahal, meskipun di beberapa daerah di Jakarta juga ada harga yang lebih murah.

Saya kira kota-kota maju itu rata-rata membangun apartemen.  Kalau di kita juga harusnya sama juga jika sudah terjadi perpadatan penduduk. Tapi tentunya tidak terlalu masif dan merusak  tata ruang yang ada

Ristiyanto, Caleg Partai NasDem Dapil Jawa Tengah IV
Kalau soal harga hunian, setiap tahun memang pasti naik karena mengikuti hukum ekonomi. Kalau permintaan bertambah pasti harga naik. Apalagi lahan sangat terbatas. Caranya, membangun perumahan baru, asalkan tidak memakan ruang terbuka hijau.

Membangun rumah susun di perkotaan jika sebagai sebuah jalan mengatasi masalah hunian bisa saja. Asalkan, tetap memperhatikan RTRW.

Solihin Pure, Caleg PBB Dapil NTT I
Harus dilakukan pemerataan juga agar lapangan-lapangan pekerjaan itu tidak hanya terpusat di kota. Sehingga masyarakat juga tinggal tidak jauh dari tempat kerjanya.

Perlu juga dibangun rumah susun di dekat pusat-pusat perindustrian. Namun, tetap juga harus dilihat RTRW-nya. Kalau asal bangun nanti malah menambah keruwetan kota besar.

Sarbini, Caleg Partai Hanura Dapil DKI III
Solusinya, industri-industri yang ada di Jakarta sudah harus dialihkan ke pinggiran daerah, sehingga orang akan bergesar. Contoh, orang dari Sumatera dari Kalimantan jika ada usaha di sana yang dapat menghasilkan, tidak mungkin datang ke Jakarta meskipun di Jakarta gajinya lebih besar.

Tanah juga tidak mungkin bertambah luas. Rumah susun harus jadi pilihan. Jika bangunannya tidak bertingkat, mengingat ada keterbatasan lahan, maka biayanya jadi lebih mahal.

Tapi, kalau rumah susun itu dipusatkan di Jakarta lagi, saya tidak tahu warga Jakarta ini nantinya akan jadi apa dan situasinya menjadi seperti apa. Tentunya, hal itu akan menambah kemacetan karena semua orang menumpuk di Jakarta.

Nah, menurut Anda, apakah solusi-solusi ini bisa menyelesaikan masalah kota?

Sumber : Yahoo news


📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita