66 Rabu, 02 April 2014 | 15:17:04

Stabil, Pasar Properti Hongkong

Stabil, Pasar Properti Hongkong

Berbeda dengan Jakarta yang masih terus menunjukkan akselerasi pertumbuhan, pasar properti Hongkong, yang tumbuh lebih dari dua kali lipat sejak 2009 silam, tidak lagi "panas". Hal ini dimungkinkan seiring berkurangnya permintaan (kebutuhan) akan rumah baru baik dari pasar domestik maupun ekspatriat. Leung Chun Yin, Chief Executive Hongkong,  mengatakan, pasar properti telah mencapai kondisi stabil, dan bahkan menunjukkan tanda-tanda penurunan harga.

"Permintaan dari pembeli mancanegara pun ikut turun ke jumlah yang sangat rendah," ujar Leung.

Menurut Paul Louie, analis Braclays Plc,  harga rumah di kota ini sempat tergelincir 4 persen pada tahun lalu setelah pemerintah memperkenalkan langkah-langkah pengetatan untuk mengekang gelembung properti.

"Dampak kebijakan tersebut akan terasa pada akhir 2015 nanti saat harga proeprti turun setidaknya sebesar 30 persen," katanya.

Sebelumnya diberitakan, pada September 2012, Leung mengumumkan rencana hanya akan memberikan hak kepada warga untuk membeli apartemen di beberapa lokasi yang dibangun oleh pengembang swasta. Rencana ini untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan lokal.

"Ketika kami meluncurkan skema percontohan ini, kami hanya akan menggunakannya ketika pasar sudah terlalu panas. Jika kita membutuhkannya di masa depan, kita bisa meluncurkan (kebiajakan pengetatan) dalam waktu singkat," imbuhnya.

Melemahnya pertumbuhan pasar properti Hongkong sejatinya sudah terjadi pada tahun lalu. Hal ini, salah satunya, ditandai menurunnnya permintaan dari kalangan ekspatriat dan investor asing sehingga menyebabkan harga sewa terkoreksi di beberapa lokasi. Seperti terjadi di kawasan South Island dan di The Peak. Kedua kawasan ini terkena pukulan paling berat akibat langkanya kedatangan ekspatriat sebagai pasar utama rumah sewa.

Para penyewa lajang memilih relokasi ke kawasan Sai Ying Pun, dan Lohas Park in Tseung Kwan O. Sementara Clearwater Bay, Sai Kung, serta Discovery Bay merupakan kawasan populer yang menjadi rujukan penyewa berkeluarga.

Anne-Marie Sage, Head of Residential Leasing and Relocation Services Jones Lang LaSalle Hongkong,mengungkapkan, pasar rumah sewa secara umum anjlok 3,3 persen selama 2013. South Island dan The Peak mencatat kemerosotan paling tajam yakni 7 persen per tahun.

"Hal tersebut terjadi terutama pada rumah-rumah dengan harga sewa 100.000 dollar Hongkong (Rp 151,3 juta) per bulan. Berkurangnya peminat juga terjadi pada rumah dengan sewa 300.000 dollar Hongkong (Rp 453,9 juta) per bulan," ujar Anne-Marie.

Penurunan jumlah keluarga ekspatriat yang datang ke Hongkong merupakan alasan utama sentimen negatif ini. Mereka yang bekerja di sektor jasa keuangan adalah captive market untuk pasar rumah sewa.

Sumber : Kompas


📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita