173 Rabu, 19 Februari 2014 | 11:40:43

Warga Kampung Pulo Enggan Direlokasi

Warga Kampung Pulo Enggan Direlokasi

Relokasi warga bantaran Kali Ciliwung di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur terhambat. Sebanyak 62 keluarga yang telah mendaftarkan diri di Kantor Kelurahan Kampung Melayu, dan terverifikasi memenuhi syarat untuk direlokasi menyatakan keberatan dengan pengalihan rencana relokasi. Sebelumnya warga bersedia lantaran dijanjikan akan menghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Cipinang Besar Selatan (Rusunawa Cibesel), Kecamatan Jatinegara, namun informasi terakhir menyebutkan relokasi tersebut dialihkan ke Rusunawa Komarudin, Kecamatan Cakung.

Tak hanya keberatan, warga mengaku kecewa dan merasa dipermainkan dengan simpang siurnya informasi mengenai rencana relokasi ini.

Seorang warga bernama Usnah (43), mengaku bersedia direlokasi asalkan ke Rusunawa Cibesel. Namun, jika direlokasi ke Rusunawa Komarudin dengan tegas Usnah menyatakan keberatannya.

Hal itu, lantaran lokasi rusun yang terlalu jauh dari usahanya di Pasar Jatinegara.

"Jauh sekali jaraknya dari Rusunawa Komarudin ke Pasar Jatinegara. Makanya kami butuh kejelasan, sebenarnya mau pindah ke mana. Jangan malah warga dipermainkan" kata Usnah yang sehari-hari berjualan alat tulis di Pasar Jatinegara ini saat ditemui di Kantor Kelurahan Kampung Melayu, Selasa (18/2).

Usnah mengatakan, dirinya bersedia direlokasi karena merasa lelah dengan banjir yang selalu melanda tempat tinggalnya. Usnah pun berharap dapat tinggal di rusun yang nyaman dan dekat dengan tempat usahanya.

"Kalau tinggal di rusun nggak perlu lagi khawatir kebanjiran, tapi kan harus lihat lokasi juga. Kalau jauh dari tempat kami mencari uang, ya susah juga," ungkapnya.

Warga lainnya bernama Atikah (40) menyatakan keberatan jika akan direlokasi ke Rusunawa Komarudin. Warga RT 09/02, Kelurahan Kampung Melayu ini memikirkan aktifitas empat anaknya. Dua anaknya masih duduk di kelas II dan III sekolah dasar yang tak jauh dari rumahnya saat ini.

"Jaraknya jauh dari sekolah dua anak saya yang masih kelas II dan III SD. Kalau memang difasilitasi untuk pindah sekolah juga tetap saja kasihan karena harus adaptasi lagi dengan lingkungannya," tutur Atikah, saat ditemui di Kantor Kelurahan Kampung Melayu, Selasa (18/2).

Tak hanya itu, dua anak lainnya juga masih bekerja di Pasar Jatinegara. Dengan direlokasi ke Rusunawa Komarudin, pekerjaan kedua anaknya yang bekerja sebagai pelayan toko di Pasar Jatinegara dikhawatirkan akan terganggu lantaran jauhnya lokasi rusun menuju pasar.

"Kalau dari rusun Cibesel kan nggak terlalu jauh, paling sekali naik angkot langsung sampai. Tapi jika dipindah ke Rusunawa Komarudin, saya pikir-pikir lagi. Itu jauh sekali. Dua anak saya yang bekerja di Pasar Jatinegara adalah tulang punggung keluarga kami," katanya.

Atikah tak habis pikir dengan perubahan rencana relokasi tersebut. Padahal, dirinya mendaftar untuk direlokasi karena disebutkan akan menghuni Rusunawa Cibesel, bukan Rusunawa Komarudin.

"Kami kan mau daftar relokasi karena rusunnya di Cibesel, tapi kenapa sekarang tahu-tahu malah dipindah ke rusun Komarudin," kata Atikah yang mengaku telah tinggal di Kampung Pulo sejak lahir ini.

Sementara itu, Heryanto, Koordinator Normalisasi Waduk dan Sungai, menegaskan, warga Kampung Pulo tetap direlokasi ke Rusunawa Komarudin.

Sebanyak 80 unit yang tersisa di Rusunawa Cibesel telah dialokasikan untuk warga relokasi dari Taman Burung Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara seperti ratusan unit lainnya yang telah berpenghuni di rusun itu. Dalam setiap relokasi yang dilakukan Pemprov DKI, setiap warga diupayakan direlokasi ke rusun yang sama. Dengan demikian, akan memudahkan warga untuk beradaptasi.

"Memang untuk relokasi, kami lakukan bedol desa, sehingga yang menghuni, merupakan warga yang sudah tinggal bersama sebelumnya," katanya.

Langkah bedol desa ini, kata Heryanto, termasuk untuk relokasi warga Kampung Pulo. Sebanyak 200 unit yang disediakan di Rusunawa Komarudin seluruhnya dialokasikan untuk warga Kampung Pulo. Untuk itu, Heryanto mengimbau agara warga Kampung Pulo segera direlokasi ke Rusunawa Komarudin.

"Semakin cepat maka kami semakin cepat juga melakukan normalisasi Kali Ciliwung," katanya.

Camat Jatinegara, Syofian Taher, mengakui adanya kesimpangsiuran informasi mengenai lokasi rusun yang akan dihuni warganya. Awalnya, Syofian mengaku diinformasikan Rusunawa Cibesel menjadi tempat relokasi warga Kampung Pulo, namun disposisi yang diterimanya pada Selasa (18/2) pagi menyebutkan warganya akan direlokasi ke Rusunawa Komarudin.

"Ternyata tadi pagi dapat disposisi bahwa warga tetap direlokasi ke rusun Komarudin," kata Syofian.

Dikatakan, saat ini terdapat 91 Kepala Keluarga (KK) yang mendaftar. Dari jumlah itu, hanya 62 kelusarga yang terverifikasi sebagai pemilik rumah, bukan pengontrak.

Meski terjadi perubahan rusun, Syofian berharap agar warga Kampung Pulo tetap mau untuk direlokasi. Menurutnya, relokasi warga untuk mempercepat proses pengerjaan normalisasi Kali Ciliwung.

Kepada warga yang menolak dengan lokasi Rusunawa Komarudin, Syofian menyebutkan sejumlah angkutan yang dapat digunakan warga untuk beraktivitas.

"Masih ada angkot yang bisa digunakan untuk menuju tempat kerja," katanya.

Syofian menegaskan pihaknya akan terus mendata dan memverifikasi warga yang berminat untuk direlokasi. Setelah diverifikasi, pihaknya akan langsung mengundi agar warga dapat segera menghuni rusun.

Langkah ini dilakukan karena proses normalisasi Kali Ciliwung tetap berjalan meski warga masih keberatan dengan rencana relokasi. Badan Pertanahan Nasional (BPN) terus menginventarisir peta bidang yang terkena dampak proyek normalisasi.

Dari data sementara itu, sejauh ini, sudah terdapat 219 peta bidang yang diinventarisasi BPN. Berdasar data sementara, Sebagian besar peta bidang yang berada di RW 06 dan 07 Kelurahan Kampung Melayu itu hanya memiliki verponding atau akte jual beli (AJB).

"Beberapa ada yang punya sertifikat. Sedangkan, untuk lahan di Kampung Pulo belum diverifikasi. Di Kampung Pulo sendiri ada sebanyak dua RW. Per RW nya rata-rata terdapat 100 bangunan. Namun, satu bangunan, bisa dihuni tiga bahkan lima KK," kata Syofian. [F-5]

Sumber : Suara Pembaruan

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita