42 Kamis, 13 Februari 2014 | 15:00:37

Ternyata Rumah Tradisional Lebih Tahan Gempa...

Ternyata Rumah Tradisional Lebih Tahan Gempa...

Terkait bencana gempa yang kerap melanda bumi Nusantara dan menyebabkan ribuan bangunan rusak, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif, mengatakan pentingnya untuk kembali kepada kearifan lokal.

"Kearifan lokal merupakan salah satu hal yang tidak dapat dihilangkan dalam upaya menanggulangi bencana. Namun sayangnya, sampai saat ini, belum banyak kearifan lokal yang diadopsi untuk pembangunan rumah tahan gempa yang dibangun di Indonesia," ujar Maarif dalam diskusi "Indonesia: Peta Bencana dan Antisipasi," di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (11/2/2014).

Lebih lanjut, Maarif mengatakan, saat ini di pedesaan sudah jarang ditemukan rumah-rumah tradisional dengan arsitektur vernakular yang sebenarnya terbukti ampuh menanggulangi bencana. Padahal, negara semodern Jepang saja masih mengadopsi model rumah tradisional.

"Jepang kan rumahnya terbuat dari bahan semacam triplek. Setelah kejadian gempa di Fukushima (2011), saya sempat ke sana. Jadi ada rumah yang sampai benar-benar tergeser tapi orang yang ada di dalamnya tidak apa-apa," kata Maarif.

Jadi, kata Maarif, sebenarnya jangan sampai kearifan lokal tergerus oleh modernisasi. Jangan takut gempanya, karena yang penting struktur rumahnya.

Selain itu, sebagai negara yang terletak di kawasan rawan bencana, dilewati sesar aktif dan juga gempa daratan, sudah sepatutnya warga Indonesia memiliki pemahaman yang baik dan dapat mengantisipasi sedari awal bencana yang sebenarnya telah rutin terjadi.

Maarif pun mencontohkan sebuah daerah di Makassar, Sulawesi Selatan, yang masyarakatnya menggunakan rumah panggung karena sadar jika wilayah tempat tinggalnya rawan akan bencana banjir.

"Ada banjir setiap bulan pun tak masalah dan tak ada yang mengeluh, karena mereka sudah paham bahwa daerah tersebut adalah daerah yang rawan bencana. Pihak yang mendistribusikan logistik pun, tinggal memberikannya dari rumah ke rumah," ujarnya.

Editor    : Hilda B Alexander
Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita