57 Senin, 11 November 2013 | 08:29:23

Jelang Olimpiade, Transaksi Hotel Tokyo Meroket Rp 15,9 Trili

Jelang Olimpiade, Transaksi Hotel Tokyo Meroket Rp 15,9 Trili

Belum lagi perhelatan olahraga akbar antarbangsa Olimpiade 2020 digelar, minat wisatawan asing berkunjung ke Tokyo memperlihatkan lonjakan signifikan. Walhasil, bisnis perhotelan ikut terkerek. Berdasarkan riset Jones Lang LaSalle (JLL) dan STR Global, terjadi lonjakan signifikan permintaan ruang hotel. Tercatat lebih dari 1,4 miliar dollar AS (Rp 15,9 triliun) nilai transaksi hotel di Tokyo selama 2013. Angka ini meroket 267 persen dari pencapaian tahun sebelumnya dalam periode yang sama.

Pemerintah Jepang sendiri mencanangkan kunjungan sebanyak 8,5 juta wisatawan selama Olimpiade 2020 tersebut dan 30 juta turis hingga 2030 diprediksi dapat terengkuh.

Tak hanya karena heboh pelaksanaan olimpiade, pencapaian tersebut juga merupakan indikasi prospek jangka panjang untuk investasi hotel yang telah kembali pada rekor terbaiknya.

Olimpiade membantu memacu pertumbuhan pendapatan per kamar tersedia saat terjadi event serupa di Beijing dan London pada tahun-tahun antara pengumuman tuan rumah penyelenggara dan pelaksanaan. Tingkat pertumbuhan tahunan di Beijing dalam tujuh tahun sebelum olimpiade adalah 4,2 persen. Sementara itu, London bergerak 6,4 persen. Jauh lebih tinggi dari rerata selama 12 tahun.

Meski demikian, STR Global dalam risetnya menyimpulkan, selain berpengaruh positif, Olimpiade juga ternyata dapat berdampak pada kinerja industri hotel menjadi negatif. Enam kota tuan rumah Olimpiade sebelumnya justru mengalami penurunan hunian rata-rata tahunan selama dan setelah penyelenggaraan pesta olahraga tersebut. Pelancong pebisnis dan pelancong wisata justru menjauhi arena.

Setelah olimpiade, Beijing memperlihatkan penurunan tajam karena pasok kamar hotel berlebih.
Akan tetapi, Tokyo diyakini merupakan pasar hotel yang lebih matang ketimbang Beijing dan kota-kota tuan rumah lainnya. Tokyo mengoleksi sekitar 140.000 kamar hotel dalam radius 50 kilometer dari kota, meminimalkan peluang terjadinya pasok berlebih. Selain itu, kota ini juga memiliki infrastruktur yang aman, nyaman, dan mapan sehingga tidak mungkin terjadi kunjungan-kunjungan bisnis dan wisata yang dianulir.

Frank Sorgiovanni, menyebut, ibu kota Jepang tersebut tidak mungkinmenghadapi kemajuan dan atau penurunan pasar secara dramatis.

"Mengingat bahwa Tokyo adalah pasar akomodasi yang lebih maju dan mapan ketimbang tuan rumah olimpiade sebelumnya," ujar Frank.

Adapun pendapatan rata-rata per kamar hotel diprediksi bakal meningkat 6 persen pada 2014, setelah pertumbuhan 10 persen pada tahun ini. Hal tersebut didorong oleh pertumbuhan ekonomi di bawah skenario "Abenomics".

Berbeda dengan pasar Tokyo, Brasil menghadapi ledakan pembangunan hotel untuk mempersiapkan Piala Dunia 2014 dan Olimpiade tahun 2016. Lebih dari 173.000 kamar hotel baru akan siap digunakan saat pesta sepak bola sejagat raya itu.

Investasi swasta di sektor perhotelan NNegeri Samba tersebut mencapai 4,51 miliar dollar AS (Rp 51,2 triliun) sampai 2017 mendatang.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita