153 Jum'at, 25 Oktober 2013 | 13:29:58

Ambisi China Menuai Kritik

Ambisi China Menuai Kritik

Menarik, memprediksi masa depan megapolitan sekelas Shanghai, China, pasca penetapan Zona Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) pada Juli 2013 lalu. Kolomnis, Alex Frew McMillan mengulasnya secara komprehensif dari sudut konstelasi bisnis dan industri properti.

Sebetulnya, ujar McMillan, seberapa bebas Shanghai mampu menentukan nasibnya sendiri? Mengingat, penetapan sebagai FTZ telah mendorong investasi di sektor properti menjadi semakin gegap gempita. Meskipun teknis pelaksanaan "kebebasan" tersebut tidak rinci dan masih banyak hal yang belum jelas. Ambil contoh, bagaimana Shanghai akan bekerja dan perdagangan jenis apa yang akan dibebaskan.

Ada perdebatan mendalam atas sejauh mana perubahan bisnis di China daratan jika hanya Shanghai yang mendapat keistimewaan ini.

Demikian halnya dengan sektor properti. Masih harus dilihat lebih jauh apakah bisnis dan industri ini mendapat jaminan prospektif dengan pemberlakuan FTZ. Sebelum FTZ berlaku saja, harga properti di Shanghai melonjak sebesar 15 hingga 20 persen.

Beberapa kritikus menilai bahwa kenaikan nilai properti merupakan efek nyata dari FTZ, ketimbang mengurangi perdagangan.

"Status FTZ disambut suka cita, dan mereka membandingkannya dengan berbagai kebijakan pembatasan di tempat lain. Sehingga FTZ di sini berlawanan dengan pengetatan. Jadi, tidak mengetahui secara pasti bagaimana dan apa itu FTZ di Shanghai, merupakan sebuah spekulasi," ujar periset properti Foresight Real Estate, Robert Ciemniak.

Selain Shanghai, ada banyak kawasan yang diusulkan menjadi area bebas yang secara potensi mendukung. Kawasan tersebut adalah kota pesisir Dalian dan Xiamen. Sementara Wuhan, Tianjin, dan Ningxia tak ketinggalan, berlomba untuk mengembangkan zona mereka sendiri.

"Unsur politis lebih kental. Beberapa kawasan yang potensial memang diprediksi akan berhasil, sebaliknya sebagian lagi mungkin gagal," ujat Robert.

Provinsi Guangdong, yang berbatasan dengan Hongkong, contohnya, sudah berusaha untuk mengembangkan daerah Qianhai, berdekatan dengan Shenzhen sebagai kota terkaya China dalam hal pendapatan per kapita, namun tak berhasil.

Padaha, upaya pemerintah setempat tak kurang keras. Mereka bekerja memikat perusahaan-perusahaan keuangan, menjaring perbankan dan industri lainnya masuk ke Qianhai. Namun, tak kunjung sukses, karena perusahaan keuangan dan perbankan tidak melihat ada kebutuhan untuk membuka cabang sekunder saat Hongkong sudah menjadi FTZ.

Bagaimana dengan FTZ Shanghai? Zona ini mencakup luas 29 kilometer persegi, di luar distrik bisnis dan keuangan Pudong. Shanghai awalnya merupakan kawasan rawa yang dikembangkan menjadi pusat keuangan pada 1990-an. Banyak gedung-gedung jangkung yang berfungsi sebagai perkantoran, tetap kosong selama bertahun-tahun. Baru-baru ini saja, tingkat okupansi membaik.

Bahkan, bila dibandingkan dengan kota lapis pertama China lainnya, pasar properti Shanghai telah jauh terbelakang. Harganya kalah telak dibanding Beijing sebagai kota termahal untuk saat ini. Shanghai hanya mencatat pertumbuhan 8,9 persen dalam 12 bulan terakhir hingga September 2013. Sementara Beijing meroket dengan 26,9 persen, Guangzhou 24,8 persen dan Shenzhen 21,2 persen.

HSBC memiliki pandangan relatif cerah pada prospek dan revitalisasi pertumbuhan Shanghai, yang telah pulih kembali sejak 2008.

Sejauh ini, hal positif yang didapat sejak pengumuman FTZ Shanghai adalah membuka investasi  enam sektor jasa kunci yakni, perbankan, pengiriman, layanan komersial, termasuk nilai tambah telekomunikasi, jasa profesional, seperti firma hukum dan sumber daya manusia, layanan budaya seperti hiburan, dan pelayanan sosial, termasuk pendidikan dan obat-obatan .

Sementara daftar efek negatif lebih panjang lagi, termasuk investasi besar di bidang media dengan banyak pembatasan pada operasi keuangan dan asuransi.

"Kami tidak yakin apakah FTZ seperti yang diumumkan mempercepat reformasi. Ini ibarat gelas, setengah kosong dan setengah penuh," ujar analis Commerzbank, Ashley Davies dan Liu Peiqian.

China berambisi membuat Shanghai menjadi pusat keuangan global pada tahun 2020. Realisasi akan dipercepat dengan percobaan dalam dua sampai tiga tahun sehingga memungkinkan konvertibilitas penuh mata uang Yuan serta deregulasi suku bunga. Akan tetapi, ironisnya pada saat yang sama, otoritas setempat memperingatkan bahwa Yuan hanya akan diizinkan untuk diperdagangkan secara bebas jika "risiko dapat dikendalikan".

"Bagi kami ini menunjukkan kuota investasi akan berlaku untuk zona perdagangan bebas. Jika demikian halnya, maka FTZ Shanghai akan menjadi sangat rumit karena China membutuhkan dua regulator untuk memonitor arus modal," ujar Ashley Davis.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita