197 Jum'at, 25 Oktober 2013 | 09:22:06

Monumen Batik yang Merana

Monumen Batik yang Merana

Yogjakarta dikenal sebagai salah satu kota yang kaya akan peninggalan budaya. Ada banyak monumen bersejarah di kota ini. Salah satunya yaitu monumen batik. Di salah satu pojokan perempatan KM 0 Yogyakarta, deretan monumen berkonsep lingga-yoni itu berjejer. Nah, di keempat dinding yoni itu terpampang motif-motif batik dan keterangan dari pelat kuningan di bawahnya.

Dulunya tempat ini adalah Monumen Tapak Prestasi. Diubah menjadi Monumen Batik untuk menghargai batik yang merupakan salah satu budaya Indonesia. Pemerintah setempat membangun monumen ini agar masyarakat dapat merasa bangga dengan karya budaya sendiri dan bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap batik sebagai produk dalam negeri.

Meski sedikit kurang terawat, monumen ini bisa jadi tempat pembelajaran beberapa motif batik khas Jogja. Hanya saja agak sedikit repot membaca keterangan motif batik yang ada di lempangan plat karena sudah kusam. Berada di tempat yang teduh, monumen ini banyak dimanfaatkan orang untuk beristirahat. Beberapa fotografer terkadang menjadikan daerah ini sebagai objek bidikan mereka.

Monumen ini menyatu dengan dengan kawasan titik 0 kilometer yang dikelilingi banyak bangunan bersejarah. Ada Monumen Satu Maret, Benteng Vredeburg, gedung Kantor Pos Pusat Jogja, BNI, dan BI. Juga ada Gedung Agung yang pernah menjadi Istana Kepresidenan saat pemerintahan pindah ke Yogyakarta.

Batik merupakan salah satu warisan budaya yang harus dijaga kelestariannya. Terlebih batik sudah diakui sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO. Oleh karena itu pemerintah setempat ingin mengajak masyarakat untuk menunjukkan kepada seluruh bangsa di dunia bahwa batik adalah asli milik bangsa Indonesia.

Sumber : Ideaonline

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita