234 Jum'at, 18 Oktober 2013 | 17:19:20

Catatan Sejarah di Jalan Asia Afrika Bandung

Catatan Sejarah di Jalan Asia Afrika Bandung

Ketika melewati Jalan Asia Afrika di Bandung sekarang, yang teringat pertama kali adalah Konferensi Asia Afrika. Jalan ini memang menyimpan sejarah. Bahkan hingga saat ini gedung-gedung bergaya art deco masih berdiri kokoh dan menjadi kebanggan kota Bandung. Jalanan ini tidak pernah sepi dengan orang-orang yang mengabadikan keindahan gedung dengan menggunakan kamera. Setiap saat bisa kita jumpai berbagai sesi pemotretan, baik itu untuk komersial atau pun hanya sekedar untuk narsis belaka.

Dulunya jalan Asia Afrika merupakan kawasan Groote Postweg. Yaitu pusat kota yang merupakan tempat berkumpulnya para pemilik kebun di sekitar bandung. Mereka menghabiskan waktu di sana untuk melancong dan tentu saja menginap, sehingga tidak heran kalau ada beberapa hotel berbintang yang hingga kini masih dijaga keasliannya. Sebut saja Hotel Grand Preanger juga Hotel Savoy Homan.

Hotel Grand Preanger telah ada di Bandung sejak 1889. Hotel ini didirikan oleh seorang Belanda yaitu Van Deterkom. Pada tahun 1929 hotel ini direnovasi dengan arsitek Ir. Soekarno.

Tidak jauh dari hotel Grand Preanger bisa kita temui Hotel Savoy Homan. Bangunan ini berdiri sejak 1880. Awalnya bangunan ini merupakan bangunan bambu kemudian direkonstruksi dengan gaya neogothik romantik. Hotel ini awalnya adalah milik keluarga Homan dari Jerman. Pada tahun 1939 hotel ini di design ulang dengan gaya streamline oleh A.F.Aalbers. Di hotel inilah para pemimpin bangsa-bangsa di Asia Afrika menginap ketika menghadiri konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955. Dinding di dalam hotel ini menyerupai galeri foto. DI sini terdapat foto-foto bersejarah yang ditata rapi dalam pigura yang ditempel pada dinding di lorong hotel.

Steak Domba, salah satu sajian khas Hotel Savoy Homan Bandung
Tidak jauh dari hotel Grand Preanger kita bisa menemui tanda 0 km kota Bandung. Tanda ini pada jaman dahulu diberikan oleh Gubernur Jendral Daendels, tepatnya pada tahun 1811. Di tempat ini juga terdapat mesin giling kuno pembuat jalan yang bernama stoomwhols.

Persis di depan hotel Savoy Homan kita bisa menemukan kantor koran Pikiran Rakyat (PR). Di sini terdapat monumen yang terdapat mesin cetak koran kuno. Tak jauh dari sini kita akan sampai di gedung Merdeka. Di sinilah konferensi Asia Afrika 18-24 April 1955 dulu berlangsung. Sebelumnya gedung ini bernama Societa Concordia yang berdiri sejak 1895. Di sinilah para elite Belanda berkumpul untuk sekedar ngobrol dan minum kopi.

Hingga saat ini gedung merdeka sudah mengalami beberapa kali renovasi. Pada jaman penjajahan Jepang, gedung Merdeka ini digunakan sebagai pusat kebdayaan Jepang dan diberi nama Dai Toa Kaikan. Pada tahun 1953 Gedung Merdeka pernah juga digunakan untuk Konferensi Internasional World Health Information.


Sumber : Viva news

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita