193 Jum'at, 26 September 2014 | 11:46:19

Pemerintah dituntut mengendalikan harga properti

Pemerintah dituntut mengendalikan harga propertikalibata city

Kestabilan bisnis properti di Indonesia masih belum dapat dipastikan. Harga properti terus melambung, padahal pasokan terus ditambahkan. Beberapa ahli mengatakan ini adalah akibat dari lemahnya pengawasan pemerintah sehingga pemerintah harus turun tangan.

Dari Lembaga Penyelidik Ekonomi Masyarakat (LPEM) Universitas indonesia, Nuzul Achjar mengatakan harga properti saat ini mengalamai ketidakjelasan. Menurutnya, persediaan banyak, tetapi harga semakin melonjak. Bertentangan dengan hukum ekonomi.

Nuzul menyebutkan harga properti saat ini tidak masuk akal. Harga tanahnya melebihi pendapatan masyarakat. Pemerintah harus bisa mengontrol hal tersebut. Aktif sehingga pengembang tidak bisa lagi melakukan spekulasi. Pemerintah harus tegas kepada pengembang untuk segera membangun. Soalnya, para pengembang terbiasa membiarkan lahan sampai meningkat harganya.

Sedangkan dari pengamat properti Indonesiapropertywatch, Ali Tranghanda mengatakan Pemerintah harus turun tangan membangun ketersediaan hunian vertikal di perkotaan dan segmen menengah.

Ali berpendapat kondisi perdagangan, bisnis sudah semakin tinggi di Jakarta. Sedangkan sebagian besar karyawan dan pegawai memilih tinggal di daerah penyangga. Sebabnya, harga hunian di Jakarta tidak sesuai dengan pendapatan mereka. rumah murah menengah berada di segmen harga Rp 200-300 juta hanya ada di kota satelit. Di jakarta sangat sulit mendapatkan hunian dengan harga seperti itu.

Dengan kondisi seperti ini, Pasokan hunian vertikal harus diupayakan dan dikendalikan oleh pemerintah. Ini dapat dikategorikan sebagai public housing yang tidak bisa diswastakan. Jika diserahkan kepada pengembang swasta, mekanisme pasar akan terjadi, sehingga harga semakin tidak terjangkau.

Sumber: Indonesiapropertywatch, liputan6

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita