183 Jum'at, 25 Juli 2014 | 15:41:43

Pengembang Beralih ke Pinggiran Kota Karena Mahasiswa

Pengembang Beralih ke Pinggiran Kota Karena Mahasiswamarket.bisnis

R. Pulung Prahasto selaku Direktur Pengembangan dan Penjualan Adhi Persada Properti (APP) mengatakan bahwa perusahaannya saat ini berpindah dari pembangunan di pusat kota ke luar Jakarta. Hal itu disebabkan karena semakin langkanya lahan di Jakarta. Khususnya pembangunan proyek ritel, Jakarta tidak begitu saja mengeluarkan izin pembangunan.

"Kita lari ke pinggiran Jakarta karena sudah sulit mencari lahan di Jakarta, begitu juga perizinan," ungkap Pulung di Jakarta, Rabu (23/7/2014).

Lebih lanjut, Pulung juga menyatakan bahwa peta pembangunan di dalam kota Jakarta pun sudah padat. Seperti contohnya, pembangunan residensial umumnya berada di Jakarta Barat, Utara, dan Selatan. Oleh sebab itu, perusahaannya mulai mengambil peluang di Jakarta Timur.

"Kalau lihat peta pengembangan ini, memang mayoritas pengembangan residensial di Jakarta Selatan. Pengembangan kedua di Jakarta Barat dan Utara. Di Timur lebih rendah, karena harga rumah di Jakarta Timur paling rendah," tambahnya.

Di sisi lain, harga tanah yang sangat melonjak di Jakarta mewajibkan pengembang hunian untuk kelas menengah bergeser ke luar kota. Walaupun harga tanah termasuk cukup murah di Jakarta Timur, itu pun masih terlalu sulit dijangkau untuk pengembang bagi masyarakat kelas menengah, apalagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

"Trennya di 2014 ini membuat harga tanah di Jakarta sudah tidak terjangkau dan sudah tidak bisa ditanggung untuk menjual apartemen middle-midle. Mereka harus bikin high end. Karena itu, kecenderungan pengembangan middle beralih ke pinggiran Jakarta," ungkap Pulung.

Tetapi, kawasan pinggiran ibukota yang dimaksud Pulung bukan daerah-daerah yang sudah banyak pembangunannya. Salah satu daerah yang dikatakan ialah Depok.

Pulung berpendapat bahwa harga tanah di Depok sudah terlalu mahal. Tetapi, dia tidak menutup kemungkinan jika APP akan kembali mengembangkan proyek di kota tersebut, terutama karena perusahaannya kini sedang rajin membangun menara residensial di area sekitar universitas negeri.

"Di Depok sendiri lahan sudah sangat-sangat tinggi. Margonda itu sudah di atas 25 juta/m2. Depok habis lahannya. Jadi, dua tower cukuplah. Kecuali, sebelahnya jual lagi. Tapi, tampaknya agak susah. Kalau memungkinkan, kami akan kembali. Pokoknya, kami melihat potensi," tuturnya.

 

 

Sumber: Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita