366 Sabtu, 31 Mei 2014 | 11:01:09

Ini Alasan Kawasan Gelora Bung Karno Diincar Pengembang!

Ini Alasan Kawasan Gelora Bung Karno Diincar Pengembang!

Sultan Hotel and Residence, Jakarta Convention Center, Hotel Mulia, Plaza FX, Hotel Atlet Century, Plaza Senayan, Perkantoran Sentral Senayan dan Apartemen Senayan merupakan contoh dari properti komersial yang dibangun di kawasan Gelora Bung Karno.

Pembangunan Gateway Park Senayan di Jl Pintu 1 dan Lot 6 @ Senayan menambah panjang daftar properti komersial di kawasan ini. Gateway Park Senayan merupakan ruang ritel dengan konsep gaya hidup dan hobi yang terdiri atas tiga lantai yang berisi kios-kios khusus untuk peritel sektor otomotif dan kafe.

Kawasan GBK diincar para pengembang menurut Yayat Supriatna , pengamat perkotaan Universitas Trisakti, karena lokasinya sangat strategis serta dilintasi jaringan transportasi dan aksesilbilitasnya mudah ditempuh dari berbagai penjuru kota.

"Kawasan GBK juga dekat dengan pusat pemerintahan, dan pusat bisnis terpadu (central business district/CBD) Sudirman-Kuningan-Thamrin. Tak mengherankan kawasan GBK menggoda pihak swasta untuk merambahnya. Meskipun harga lahan di sekitarnya dipatok tinggi sekitar Rp 60 juta hingga Rp 70 juta per meter persegi, tak masalah buat pengembang," ujar Yayat, Jumat (30/5/2014).

GBK yang berfungsi sebagai jantung dan paru-paru sekaligus ruang terbuka hijau (RTH) kota Jakarta dengan total luas lahan 284,2 hektar ini makin tergerus oleh pembangunan yang marak terjadi. Gateway Park Senayan dianggap sebagai bentuk aksi perambahan atas RTH.

"Dengan diizinkannya pembangunan Gateway Park Senayan, maka status GBK sebagai RTH menjadi "banci", tidak jelas. Kalau mau dijadikan sebagai kawasan komersial, sekalian saja dideklarasikan. Jangan sedikit demi sedikit perambahan diizinkan. Ini preseden buruk," imbuh Yayat.

Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPK GBK) sebagai lembaga yang bertugas mengelola Kawasan GBK, telah menyalahi filosofi pembentukan PPKGBK sendiri. Seharusnya PPK GBK berkewajiban melestarikan dan mengembangkan kawasan untuk tetap dapat berfungsi sebagai RTH serta dapat meningkatkan dan mengembangkan kualitas prasarana kegiatan olahraga bertaraf internasional, mengembangkan kemandirian melalui usaha meningkatkan intensitas pemanfaatan ruang.

"Terakhir itu merupakan grey area, wilayah abu-abu. Karena jika mengacu pada proyek Gateway Park saya menduga meski lahannya berada di wilayah pengelolaan PPK GBK namun perizinan dikeluarkan DKI Jakarta. Padahal pembangunan ritel komersial sudah dibatasi dengan dikeluarkannya moratorium," pungkas Yayat.

Yayat meminta Pemerintah mengambil tindakan tegas akan keberlangsungan kawasan GBK. Diharapkan ada kawasan penganti bila kawasan ini difungsikan menjadi kawasan komersial.

"Dulu ada wacana Hambalang di Kabupaten Bogor, dikembangkan untuk menggantikan peran dan fungsi GBK, namun belum lagi dibangun sudah kacau balau. Nah, sekarang, peran dan fungsi GBK lama-lama kacau juga karena RTH-nya kian tergerus," tandasnya.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita