161 Kamis, 24 April 2014 | 12:57:43

Kawasan Calon CBD

Kawasan Calon CBD

Pertumbuhan properti di kawasan Jakarta Timur memang jauh tertinggal dibandingkan kawasan lainnya.  Koridor MT Haryono (Cawang) merupakan yang paling aktif di area Jakarta Timur.  Menara perkantoran WIKA menjadi pengembangan utama di kawasan ini disusul oleh perusahaan perbankan dan keuangan, asuransi, konsultan, manufaktur dan distributor. Terjadi peningkatan rerata harga sewa, dipatok pada angka Rp 142.600 per meter persegi, sebesar 10 persen dari tahun lalu. Tingkat hunian pun relatif stabil di angka 94,1 persen. Permintaan pun masih sedikit, hanya 0,5 persen dari komposisi pasar non-CBD.

Slipi dan Puri Indah merupakan area paling aktif di Jakarta Barat.  PT Summarecon Agung Tbk memilih lahan seluas 1,2 hektar di Slipi sebagai tempat membangun  perkantoran dan perhotelan yang diberi nama Summarecon Slipi.

"Perusahaan-perusahaan yang memilih berkantor di kawasan ini bergerak di bidang industri kimia, manufaktur, perdagangan, perbankan, dan keuangan. Dalam dua tahun ke depan akan terdapat pasokan baru sebanyak 86.800 meter persegi atau sekitar 7,4 persen dari total suplai perkantoran non-CBD. Harga sewa rerata mencapai Rp 178.900 atau meroket 28,7 persen dari tahun lalu," papar Arief N Rahardjo, Senior Associate Director and Head of Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia

Adapun Kemayoran merupakan area paling aktif di Jakarta Pusat. Perusahaan yang bermukim di kawasan ini antara lain perbankan dan keuangan, asuransi, konsultan, perkapalan, dan perdagangan. Pasokan baru hingga 2017 mendatang sebanyak 157.900 meter persegi atau 13,4 persen dari total pasokan baru non-CBD. Adapun harga sewa rerata mencapai Rp 155.500 per meter persegi, melonjak 26 persen dari tahun lalu. Permintaan pun tak kalah melesat yakni sebanyak 36 persen dari market share non-CBD keseluruhan. Kenaikan tingkat hunian sebesar 2,6 persen ketimbang tahun lalu menjadi 92,4 persen.

MT Haryono, Slipi dan Kemayoran diprediksi dapat pusat bisnis komersial berikutnya setelah kawasan segitiga emas Jakarta, dan koridor Simatupang.

“Hal tersebut didukung nilai lahan yang relatif masih lebih rendah ketimbang kawasan segitiga emas Jakarta lainnya. Selain itu dilintasi jaringan transportasi berupa jalan tol, rencana monorel, busway, mass rapid transit, dan sebagainya," kata Anton Sitorus,  Head of Research JLL,  Rabu (23/4/2014).

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita