64 Sabtu, 12 April 2014 | 14:54:04

Investor Juga Mengicar Rusunami!

Investor Juga Mengicar Rusunami!

Investor rupanya tidak hanya bermain di property komersial seperti apartemen belaka tapi juga mengincar rumah susun komersial milik (rusunami). Hal ini dikatakan Ibnu Tadji Ketua APERSSI (Asosiasi Perhimpunan penghuni Rumah SuSun Indonesia), Jumat (11/4/2014).

"Meski terdapat larangan memindahtangankan unit-unit rusun sudah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 20/2011, tetap saja praktek tersebut terus berlangsung. Ini tidak bisa dibiarkan. Bahkan sangat berbahaya. Ketika spekulan atau investor tersebut tidak bisa menjual atau menyewakannya kembali dengan harga sesuai ekspektasi, maka mereka terpaksa mematok tarif murah," jelas Ibnu.

Pembelian ini untuk memperoleh keuntungan dari penjualan kembali unit-unit yang telah dibeli. Inilah yang menjawab fenomena rusun-rusun sekarang sepi tak berpenghuni.

"Kondisi sepi tersebut tak jarang mengundang terjadinya tindak kriminalitas. Sangat sering terjadi di rusun-rusun sepi. Hanya saja tak pernah diberitakan," ungkap Ibnu.

Ibnu menyadari bahwa seorang pengusaha pastilah menginginkan modal terus berputar sehingga berinvestasi di rusun atau apartemen adalah hak semua orang. Tidak hanya ratusan unit tapi ada sekolompok investor yang punya ribuan unit rusunawi.  

Ada beberapa efek yang timbul oleh aksi ini yaitu pertama , kriminalitas dan kedua, kenaikan harga yang luar biasa.

"Bagaimana dengan masyarakat yang benar-benar mau cari rumah? Harganya baru tiga bulan bisa naik Rp 20 juta. Sungguh luar biasa kebijakan pemerintah, malah jadi ajang spekulasi dengan keuntungan yang tidak terhingga," ujar Ibnu.

Aksi insider trading, pembelian rusunawi oleh orang -orang "dalam" atau anggota keluarga pengembang sebelum diluncurkan, makin memperparah kondisi ini.

" Apakah pemerintah tidak tahu? Tahu! tapi tidak ada tindakan yang jelas," ungkapnya.

Aksi ini terjadi pada rusunami yang dijual sebelum UU Nomor 20/2011 diterbitkan. Walaupun rusun bersubsidi terkena larangan memindahtangankan unit kepada pihak lain sejak 2012 namun praktik jual beli di bawah tangan masih bisa dilakukan, selama masih PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli) atau belum AJB (Akta Jual Beli).

Aturan Loan to Value (LTV) yang diterbitkan Bank Indonesia, disebutkan Ibnu bisa  mengantisipasi hal ini. Hanya saja efektivitasnya kurang tampak karena investasi rusun hasilnya lebih besar dari bunga bank, dengan keuntungan bisa mencapai 50 hingga 100 persen.

"Pemerintah perlu melarang investasi. Sekarang baru loan engineering. Ke depan saya kurang yakin LTV atau regulasi lain bisa mengekang praktek spekulasi," tambah Ibnu.

Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) diharapkan membuka mata untuk membatasi para pelaku spekulasi dengan mengaturnya dalam  perangkat hukum UU Rusun.

Sumber : Kompas

 

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Terkini

Selengkapnya

Referensi

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita