8 Selasa, 01 April 2014 | 11:20:10

Tolong Bebaskan PPN Rumah MBR!

Tolong Bebaskan PPN Rumah MBR!

Wajah William tampak serius. Nada bicaranya sesekali meninggi. Malam itu, di sela perhelatan  para pengembang properti anggota Real Estat Indonesia (REI) dia menceritakan kesulitannya memasarkan rumah sejahtera tapak (RST) di Manado, Sulawesi Utara.  

“Kami tidak bisa menjual rumah dengan begitu saja sesuai dengan harga yang ditentukan pemerintah. Persoalannya masyarakat (MBR) mampu nggak? Banknya mau nggak?” Sergah William yang juga Ketua DPD REI Manado, di Makassar, beberapa waktu lalu.

Berselang dua jam sebelumnya, Djan Faridz,  Menteri Perumahan Rakyat (Menpera)dengan optimistisnya meminta para pengembang tetap membangun RST bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Di hadapan ratusan pengembang properti di bawah pimpinan Eddy Hussy, Menpera meminta para pengembang tidak perlu menunggu pembebasan pajak pertambahan nilai (PPn) 10% yang hingga kini masih menunggu keputusan menteri keuangan (menkeu).

“Dengan perubahan harga baru yang sudah disetujui pemerintah, semestinya para pengembang sudah bisa menjual rumahnya,” kata Menpera yang datang ke acara itu menyewa pesawat jet pribadi agar bias mengejar waktu.  

Pernyataan Menpera merespons permintaan anggota REI yang merasa situasi cukup berat bagi para pengembang rumah sederhana. Biaya pembangunan rumah dianggap sudah cukup mahal sehingga bisa mengurangi margin pendapatan bila dijual dengan harga lama.  

Di sisi lain, daya beli kelompok MBR bakal terbebani bila tidak mendapat keringan berupa penghapusan PPn 10%. Di tengah itu semua, bagi Eddy Hussy, ketua umum REI, pilihan yang moderat salah satunya adalah subsidi lewat pemangkasan Ppn.

“REI memohon pembebasan PPN rumah rakyat bagi MBR,” tegasnya.

Sumber : Investor Daily


📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita