113 Kamis, 27 Maret 2014 | 09:28:07

Inilah Kampus Baru Binus

Inilah Kampus Baru Binus

Ketergantungan kota-kota satelit pada DKI Jakarta bukan mustahil akan berkurang drastis di masa mendatang. Tolok ukur kemandirian kota, seperti ketersediaan pusat perbelanjaan, sarana pendidikan, kesehatan, dan perkantoran pun mulai tersedia di kota-kota satelit. Kerusakan alam yang semakin parah memaksa kepedulian masyarakat dan menekan para arsitek merancang bangunan ramah lingkungan. Salah satu contoh terbaru adalah Kampus Utama Binus University yang baru memasuki tahap penutupan atap (topping off) di lokasi proyek di Alam Sutera, Serpong, Tangerang, Rabu (26/3/2014).

Upacara tersebut sekaligus menandakan rampungnya pembuatan konstruksi bangunan kampus berjargon Kampus Pintar dan Hijau. Menurut rencana, kampus ini akan rampung dan bisa digunakan September 2014 mendatang. Kampus menempati area seluas lima hektar ini disebut-sebut mampu menampung 20.000 mahasiswa.

Ditemui di lokasi proyek, Prof Harjanto Prabowo, Rektor Binus University, mengemukakan antusiasmenya menanti Kampus Utama Binus University rampung dan bisa digunakan. Dengan semangat, Harjanto menunjukkan fitur-fitur yang menjadikan kampusnya tergolong ramah lingkungan dan hemat energi. Dia juga menunjukkan situs tidak jauh dari Kampus Utama yang akan dijadikan Perpustakaan Terbuka.

"Kami terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan, baik dari segi akademis maupun fasilitas. Kampus ini akan dikembangkan menjadi pusat indutri kreatif yang dapat memberikan nilai manfaat bagi mahasiswa dan masyarakatnya," katanya.

Sebelumnya, Francis Budi Raharja Santoso, Managing Director Bina Nusantara Group, dalam presentasinya menjabarkan fitur-fitur ramah lingkungan di kampus tersebut. Fitur itu bermula dari konstruksi bangunan yang mampu membuat penggunanya mengurangi penggunaan pendingin udara dan lampu.

Menurut Francis, mengurangi penggunaan pendingin udara bisa dicapai dengan mengurangi jumlah sinar matahari masuk ke dalam ruang kelas. Namun, cahaya sinar matahari juga harus dipertahankan agar ruang kelas tidak perlu menyalakan terlalu banyak lampu. Pengurangan ini dilakukan menggunakan teknologi kaca lapis ganda (double glazed), selain juga menyertakan taman vertikal di depan jendela.

"Ini salah satu konsep penggunaan desain pasif yang memaksimalkan cahaya matahari," ujarnya.

"Kami kurangi bukaan jendela untuk mengurangi cahaya yang masuk. Kami hanya menggunakan 30 persen bukaan untuk cahaya. Kemudian kami juga membuat vertical green park, sehingga terlihat hijau dengan tanaman vertikal," tambahnya.

Sementara itu, menurut Harjanto, kampus tersebut juga akan menggunakan lampu hemat energi berteknologi LED dan pendingin udara berteknologi sistem pendingin air atau water cooled chiller dengan inverter screw chiller system. Meski enggan menyebutkan besarannya, Harjanto mengakui, bahwa investasi dikeluarkan untuk teknologi ini lebih besar dari pendingin udara konvensional.

"Namun, biaya sehari-harinya lebih murah. Ini akan menguntungkan mahasiswa karena minim biaya berulang."

Berdasarkan fitur ini, Kampus Utama Binus University tersebut bukan hanya ""pintar" berkat penggunaan teknologi tinggi. Sebutan hijau untuk kampus tersebut juga cukup pantas karena pihak kampus secara aktif melakukan konservasi air.

"Kampus akan mengumpulkan air hujan, mengolah, dan menggunakannya kembali. Air ini akan digunakan untuk menyiram tanaman dan mengguyur toilet," ujarnya.

Editor    : Latief
Sumber : Kompas








📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita