335 Selasa, 25 Maret 2014 | 09:38:16

Inilah Primadona Pengembang Besar di Sulawesi

Inilah Primadona Pengembang Besar di Sulawesi

Tak dimungkiri pertumbuhan sektor properti di Makassar, Sulawesi Selatan, maju pesat. Hal ini dipicu oleh proses dekonsentrasi pembangunan dan aktivitas ekonomi dari super primate Jakarta. Demikian pendapat Bernardus Djonoputro, Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP), terkait posisi Makassar, Balikpapan, dan Manado, dalam peran dan fungsinya secara strategis bagi Kawasan Timur Indonesia.

"Makassar mulai menarik setelah 30 tahun menjadi bayang-bayang Surabaya. Dalam perkembangannya kemudian, kota ini mampu menghidupi dirinya sendiri dan membuat "tarikan" pertumbuhan ekonomi ke timur yang sebelumnya dikuasai Jakarta dan Surabaya," ujar Bernardus.

Walhasil, kata Bernardus, Makassar menjadi hub bagi Kawasan Timur Indonesia. Pembangunan infrastruktur, pusat ekonomi, perluasan Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, dan pelabuhan laut menjadikan kota "angin mamiri" ini memperlihatkan kekuatan ekonomi yang berpengaruh.

"Selain itu, posisinya sangat strategis, sebagai pintu gerbang bagi kawasan lain di sekitarnya. Makassar tidak hanya melayani kebutuhan sekitar 1,4 juta jiwa penduduknya, melainkan juga kebutuhan Kawasan Timur Indonesia secara umum. Arus barang, dan komoditas harus melalui kota ini sebelum didistribusikan ke kota-kota lainnya," ucap Bernardus.

Pertumbuhan ekonomi Makassar yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai rerata 8,5 persen per tahun, jauh di atas pertumbuhan ekonomi Nasional 5,9 persen. Ini mengindikasikan potensinya untuk menarik lebih banyak lagi investasi. Terutama investasi sektor properti, seperti perumahan, apartemen, hotel, dan pusat belanja.

Wajar bila kemudian pengembang sekelas PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), Ciputra Group, Relife Property Group, dan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menggarap Makassar dengan membangun proyek skala besar.

Tahun lalu, LPKR melansir superblok The St Moritz Penthouse and Residences Makassar di atas lahan seluas 2,7 hektar.

Proyek yang digarap pengembang dengan kapitalisasi pasar senilai Rp 27,1 triliun per 24 Maret 2014 tersebut terdiri atas 12 jenis properti, di antaranya adalah apartemen yang terangkum dalam dua menara, salah satunya setinggi 51 lantai dikombinasikan dengan hotel bintang lima. Selain itu, terdapat pusat belanja dengan area sewa seluas 75.000 meter persegi, sekolah Pelita Harapan, sinema 10 teater, pusat hiburan dan kuliner serta lounge serbaguna.

The St. Moritz Makassar Penthouse and Residences merupakan proyek kedua LPKR. Sebelumnya, mereka telah mengembangkan perumahan skala kota Tanjung Bunga Makassar seluas 1.000 hektar melalui anak usahanya, PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk. Untuk merealisasikan proyek ini, LPKR memproyeksikan kebutuhan dana sebesar Rp 3,5 triliun.

Sementara Ciputra Group memperkuat eksistensinya dengan proyek Vida View Apartment. Mereka menjalin aliansi bisnis dengan Galesong Group untuk membangun proyek yang berupa tiga menara hunian vertikal tersebut.

Menyusul kemudian APLN yang akan mengusung waterfront city dengan luasan lahan total 300 hektar. Tahap awal pengembangan yang akan dikerjakan adalah seluas 2-3 hektar dari total 15 hektar lahan yang telah diakuisisi. Sementara dua pertiga dari total kebutuhan lahan tersebut akan dilakukan melalui proses reklamasi.

Lahan seluas 2-3 hektar tersebut akan dimanfaatkan untuk pengembangan outdoor theme facilities. Fasilitas yang terdapat di dalamnya adalah pusat kuliner, water sport facilities, dan family and entertainment center.

APLN akan membawa konsep yang berbeda. Begitu pula nanti dengan pengembangan sebagian besar lahan lainnya. Karena skalanya besar, mereka akan membangun beragam fungsi properti mulai dari apartemen, hotel, ruko dan pusat belanja serta landed house eksklusif.

Hal senada dikemukakan CEO Lippo Homes, Ivan Budiono. Menurutnya, masyarakat Makassar punya daya beli tinggi. Jumlah kelas menengah juga bertambah. Para pembeli produk LPKR, terutama apartemen di Jakarta dan Surabaya, banyak yang berasal dari Makassar. Mereka juga kerap membelanjakan uangnya di pusat-pusat belanja Singapura.

Sementara Relife Property Group menjalin kolaborasi strategis bersama pengembang lokal dengan skema KSO. Keduanya menggarap integrated development dengan nilai investasi Rp 75 miliar di atas lahan seluas 50 hektar. Proyek ini berisi perumahan, fasilitas pendidikan, perniagaan, pusat bisnis, boutique mall, dan fasilitas rohani.

LPKR, Ciputra, APLN, dan Relife Property Group hanyalah segelintir dari sekian banyak pengembang yang menjadikan Makassar sebagai wilayah garapan. Raksasa properti lainnya, yakni Sinarmas Land, juga tengah menjajaki kota ini.

"Kami membuka peluang untuk masuk ke kota-kota second-tier dengan pertumbuhan dan aktivitas ekonomi positif. Salah satunya kota-kota di Kawasan Indonesia Timur, terutama Makassar," ujar Ishak Chandra, Managing Director Corporate Strategy and Services Sinarmas Land.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita