302 Kamis, 20 Maret 2014 | 09:30:54

Ini Metropolitan Baru di Kawasan Timur Indonesia

Ini Metropolitan Baru di Kawasan Timur Indonesia

Laju pertumbuhan penduduk di Makassar, Sulawesi Selatan, semakin padat seiring tumbuhnya kota itu menjadi magnet ekonomi di Kawasan Timur Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonominya mencapai rerata 8,5 persen per tahun, jauh di atas pertumbuhan ekonomi Nasional yang sebesar 5,9 persen.

Pertumbuhan tersebut memicu tingginya kebutuhan investasi, khususnya investasi sektor properti perumahan (landed house), apartemen, hotel, dan pusat belanja. Karena itulah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus menggaungkan pembangunan metropolitan  Mamminasata yang mencakup wilayah Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar.

Mamminasata disiapkan menjadi kawasan percontohan pengembangan tata ruang terpadu. Rancangan kota ini dibangun berdasarkan Peraturan Presiden No 56 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar.

"Ini dipersiapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur yang mencakup empat kabupaten atau kota di Sulawesi Selatan, yaitu Makassar, Gowa atau Sungguminasa, Maros, dan Takalar," kata Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan,pada pidato sambutan HUT REI ke-42 di Makkasar, Selasa (18/3/2014) malam.

Seluas 3.500 hektar, luasan metropolitan Mamminasata itu sekira 17 kilometer dari Bandar Udara Internasional Hasanuddin atau 14 kilometer dari kawasan Panakukkang. Sesuai rencana Dinas Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sulawesi Selatan, kawasan ini bisa dilalui oleh dua jalur arteri, yaitu jalur Bypass Mamminasata dan terusan Jalan Abdullah Dg Sirua.

Sesuai perencanaan, proyek ini diprediksi mampu menampung sedikitnya 300 ribu jiwa di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Pattasalang dan Moncongloe.

Muhammad Arief Mone, Ketua DPD REI Sulsel,  mengatakan bahwa industri properti di Makassar saat ini mulai mengarah pada pengembangan produk untuk segmen menengah atas. Adapun bagi kalangan menengah bawah akan bergeser ke pinggiran kota, yaitu Maros dan Gowa.

"Karena harga tanah semakin tinggi, maka pengembang yang masuk lebih menyasar segmen menengah atas," kata Arief.

Saat ini harga lahan di tengah kota Makassar tak ubahnya dengan kenaikan harga lahan di kota-kota besar lain di Indonesia. Di sekitar kawasan Pantai Losari, misalnya, harga lahan mencapai Rp 20 juta sampai Rp 50 juta per meter persegi.

Karena itulah, lanjut Arief, pengembangan properti untuk kalangan menengah atas tersebut akan menyasar subsektor properti, antara lain apartemen, kondominium hotel (kondotel), dan perumahan. Kawasan pengembangan itu akan lebih berpusat di tengah Kota Makassar, yaitu Kawasan Tanjung Bunga dan Panakukkang.

Saat ini, salah satu pengembang yang sudah ikut merealisasikan pengembangan kawasan tersebut adalah PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR). LPKR tengah merancang reklamasi untuk melengkapi pengembangan perumahan skala kota Tanjung Bunga Makassar seluas 1.000 hektar melalui anak usahanya, PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk. Untuk merealisasikan proyek ini, LPKR memproyeksikan kebutuhan dana sebesar Rp 3,5 triliun.

Dalam skala nasional, sebetulnya pemerintah melalui Kementerian Perumahahan Rakyat juga telah mendorong pengembangan metropolitan dan kota-kota baru yang tersebar di 24 lokasi di seluruh Indonesia. Hal itu dilaksanakan mengacu pada rencana pengembangan 6 koridor ekonomi sebagaimana tertuang dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pengembangan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Pada 2011 lalu, Kemenpera sudah menggandeng para pengembang REI untuk andil dalam pengembangan 10 kota baru. Sejurus dengan hal itu, Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan,  pun merestui kerjasama dengan REI. Syahrul mengatakan bahwa tahun depan proyek kota baru tersebut mulai dirancang bersama-sama REI.

Eddy Hussy, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat REI, membenarkan hal itu. Meskipun masih dalam perencanaan, dan belum ada hitung-hitungan soal besarnya anggaran, Eddy mengaku optimistis megaproyek kota baru ini bisa terealisasi.

"Tawaran kerjasama ini perlu lebih dimatangkan lagi, apalagi kepengurusan REI 2013-2016 memiliki bidang yang khusus menangani pengembangan metropolitan dan kota baru," ujar Eddy.

Editor    : Hilda B Alexander
Sumber : Kompas


📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita