335 Senin, 17 Maret 2014 | 09:40:47

Ini Saatnya Pengembang Manfaatkan Lahan 'idle'

Ini Saatnya Pengembang Manfaatkan Lahan 'idle'

Kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah di Provinsi DKI Jakarta dengan besaran rerata 120 persen hingga 240 persen yang berlaku sejak awal tahun ini, merupakan momentum tepat bagi pengembang untuk memanfaatkan lahan yang belum terbangun. Menurut Arief N Rahardjo, Senior Associate Director and Head of Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia, pengembang harus secepatnya membangun properti di atas lahan mereka yang selama ini idle ("nganggur"). Pasalnya, kenaikan NJOP ini akan memicu kenaikan harga pasar lahan semakit melesat.

Akan tetapi, kenaikan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) ini tidak berpengaruh signifikan terhadap meroketnya harga properti. Pasalnya, harga properti secara fundamental hanya dilihat dari nilai pasar market value, dan terjadi berdasarkan keinginan pembeli (willing buyer) serta kehendak penjual (willing seller). Hendra Hartono, CEO Leads Property Indonesia,  mengutarakan hal tersebut, di Jakarta, Jumat (14/3).

"Jika harga pasar lahan di Kuningan setelah NJOP baru menjadi Rp 80 juta per meter persegi, maka tahun depan kemungkinan akan melesat lagi menjadi Rp 100 juta per meter persegi. Nah, dengan harga setinggi itu, properti seperti apa dan dengan harga berapa yang layak mereka kembangkan? Tentu saja properti premium," lanjut Arief, Jumat (14/3/2014).

Padahal, lanjut Arief, ceruk pasar kelas atas cenderung terbatas. Tidak segemuk pasar kelas menengah dan bawah. Ceruk kelas atas hanya 15 persen dari total pasar properti Indonesia. Pengembang yang bermain di wilayah ini pun terbilang terbatas. Namun, mereka sangat mumpuni dengan rekam jejak tak diragukan.

Sebaliknya, jika dimanfaatkan sekarang, maka pengembang masih memiliki kesempatan untuk bermain di pasar menengah dan menengah atas. Dengan harga pasar sekarang, pengembang bisa membangun dan memasarkan properti dengan harga lebih masuk akal dan dapat diterima pasar.

Iwan Setiawandi, Kepala Dinas Pelayanan Pajak Provinsi DKI Jakarta,  pun mengakui bahwa kenaikan NJOP tahun ini diberlakukan untuk menyesuaikan dengan harga pasar.

"Meskipun naik, tetap saja tidak bisa mengejar nilai pasar. NJOP tidak akan lebih tinggi dari nilai pasar. Contohnya NJOP di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, tahun ini sebesar Rp 48 juta per meter persegi. Sebelum NJOP naik, sekitar Rp 30 jutaan per meter persegi. Sementara harga pasar pasti dua kali lipat dari itu, sekarang sekitar Rp 80 jutaan per meter persegi," papar Iwan.

Jadi, baik Hendra maupun Iwan sepakat bahwa kenaikan NJOP lebih untuk penyesuaian, dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

"Kita bisa lihat NJOP tanah di kawasan Thamrin naik dari Rp 33 juta per meter persegi menjadi Ro 60 jutaan per meter persegi. Angka ini tetap lebih murah dari nilai pasar yang suda berada pada kisaran Rp 100 juta per meter persegi. Dengan begitu harga propertinya pun tetap mengikuti mekanisme pasar, bukan mekanisme NJOP," tandas Hendra.

Contohnya, gedung perkantoran premium dengan harga sewa di atas Rp 500.000 per meter persegi di luar biaya servis, atau apartemen menengah atas dengan harga jual Rp 35 juta-Rp 45 juta per meter persegi.

"Selain itu, tahun depan hingga 2017 mendatang pasokan baru, banyak masuk pasar. Hal ini menstimulasi kompetisi kian ketat. Bagi pengembang yang sudah membangun tahun lalu atau baru memulai tahun ini, maka punya peluang lebih besar produknya terserap pasar," tandas Arief.

Sumber : Kompas

 

 

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita