127 Rabu, 12 Maret 2014 | 10:14:04

Transaksi Perhotelan Asia Meroket 218 Persen!

Transaksi Perhotelan Asia Meroket 218 Persen!

Volume investasi sektor perhotelan di kawasan Asia sepanjang 2013, meroket 218 persen menjadi senilai 75 miliar dollar AS atau ekuivalen dengan Rp 85,5 triliun. Namun, pencapaian ini belum mampu menyamai rekor volume investasi pra krisis global 2007 senilai 10,3 miliar dollar AS (Rp 117,4 triliun).

Menurut laporan JLL Hotel & Hospitality Group, sentimen investor dan kualitas aset pehotelan memengaruhi pencapaian tersebut.

"Selain itu, terbatasnya pasokan hotel baru semakin mendorong pemilik menunda penjualan aset demi mengantisipasi pertumbuhan pasar lebih lanjut," ujar Mike Batchelor, Managing Director Investments Sales Hotel & Hospitality JLL.

JLL juga mencatat, investasi hotel tertinggi di Asia masih dipimpin oleh Singapura, Jepang, dan China daratan. Jepang tampil sebagai pemuncak dengan lompatan investasi senilai 480 persen ketimbang tahun 2012 dengan transaksi 2,7 miliar dollar AS (Rp 30,7 triliun).

Sementara volume transaksi Singapura mencapai 2 miliar dollar AS (Rp 22,8 triliun). Nyaris 10 kali lebih tinggi ketimbang pencapaian tahun 2012. Penjualan Grand Park Orchard Hotel dan Knightsbridge berkonstribusi signifikan terhadap volume transaksi.

"Pasar hotel yang mapan seperti Singapura tetap diatur kapitalisasi yang teratur, investor antar-generasi dan semakin terbatasnya pasokan. Investor sekarang mulai melihat lebih jauh ke pasar baru dan berkembang di kawasan ini dalam mencari hasil yang lebih besar demi peluang pertumbuhan modal," kata Batchelor.

China tampil sebagai kontributor terbesar ketiga sebanyak 11 persen dengan nilai 1,1 miliar dollar AS (Rp 12,5 triliun). Mencuatnya volume investasi di Negeri Panda ini karena tumbuhnya kepercayaan investor serta peningkatan akses pembiayaan pada semester kedua 2013.

Pasar lain yang memperlihatkan pertumbuhan positif adalah Hongkong, Thailand, dan Maladewa. Hongkong naik 19 persen menjadi 486,7 juta dollar AS (Rp 5,5 triliun), Thailand mencatat 31 persen menjadi 337 juta dollar AS (Rp 3,8 triliun), dan Maladewa dengan lonjakan fantastis 614 persen menjadi 267,6 juta dollar AS (Rp 3,051 triliun).

JLL memprediksi, investasi berkelanjutan akan terus terjadi pada 2014, walaupun dengan volume lebih moderat karena transaksi sedikit akibat penawaran portofolio yang terbatas.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita