213 Selasa, 11 Maret 2014 | 10:11:25

Alasan Indonesia Masih Jauh dari 'Bubble' Properti

Alasan Indonesia Masih Jauh dari 'Bubble' Properti

Indonesia masih menjadi prioritas tujuan investasi sektor properti dibanding negara lain di kawasan Asia.

"Berdasarkan data dan analisis, Indonesia masih menjadi prioritas utama investasi di Asia," kata Ishak Chandra, Managing Director Corporate Strategy & Services Sinar Mas Land, di Jakarta, Senin (10/3).

Ishak memaparkan Jakarta dinilai masih menjadi nomor ketiga dalam prioritas teratas di Asia, setelah Kuala Lumpur (Malaysia) dan Bangkok (Thailand).

Sedangkan dari sisi gross rental yield per annum (peningkatan harga sewa per tahun), Jakarta berada di posisi kedua teratas yaitu sebesar 7,05 persen per tahun setelah Manila (Filipina) yang sebesar 7,06 persen.

Peningkatan itu dinilai tinggi dibandingkan negara-negara lainnya karena yang terdekat dengan ketiga atau dalam posisi ketiga gross rental yield per annum adalah Bangkok dengan hanya 6,29 persen.

Sementara dari jenis properti, ujar dia, aktivitas permintaan yang akan meningkat di Indonesia pada 2014 adalah rental offices (perkantoran sewa) dan strata-title offices (perkantoran hak milik).

"Yang permintaannya menurun adalah properti kawasan industrial, sedangkan yang lain-lain adalah stabil," katanya.

Ia memaparkan Sinar Mas Land juga secara khusus memperhatikan pembangunan proyek perkantoran, kondominium, industrial, ritel dan perumahan di Jakarta pada 2014.

Ishak juga mengemukakan pembangunan sektor properti dinilai masih akan terus tumbuh pada 2014 meski prosesnya bakal melambat bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Indonesia jauh dari 'Buble Properti'
Ishak Chandra, mengaku tak bisa serta merta menjawab kemungkinan terjadinya bubble atau gelembung properti di Indonesia. Dia mengaku hanya dapat memberikan parameter terjadinya bubble. Memang, menurut Ishak, berdasarkan parameter tersebut terlihat terjadinya bubble properti di Indonesia masih jauh dari kenyataan.

"Apakah Indonesia akan mengalami properti bubble, saya tidak bisa mengatakan ya atau tidak, lebih baik kita lihat parameternya saja," ujar Ishak.

Pertama-tama, Ishak mengatakan, penggunaan uang bank (leverage) yang lebih besar daripada unleverage dalam pembelian properti menjadi salah satu indikatornya. Sementara itu, Indonesia sudah terkenal sebagai negara yang cenderung menggunakan model tradisional dalam pembelian properti, seperti uang simpanan dan aset lainnya.

Kedua, parameter terjadinya bubble properti adalah ketika investor punya expected return yang tidak tercapai.

"Misalnya, mereka beli properti dan menginginkan yield lima persen. Ternyata, hanya dua persen yang terjadi. Atau, mereka ingin cepat menjual kembali, ternyata pada saat ingin menjual, mereka tak bisa menjual sesuai harapan," ujar Ishak.

Ishak memang tidak secara langsung menyatakan, bahwa keuntungan pengusaha properti di Indonesia luar biasa. Setidaknya, menurut dia, hal itu hanya menyiratkan bahwa keuntungan di bidang properti menggiurkan.

Ketiga, fundamental dari investor tidak kuat.

"Bubble bisa terjadi jika ketika para investor membeli dan mereka mau menjual lagi, belinya menggunakan pinjaman bank. Lalu, ketika mau menjual lagi, mereka tidak bisa menjual dengan cepat. Mereka kelabakan dan terjadi force sale karena tidak bisa membayar hutang," ujar Ishak.

Menurut Ishak, pembeli properti di Indonesia adalah pembeli berulang. Mereka punya fundamental kuat. Ishak mengatakan, orang-orang tersebut punya holding power kuat. Artinya, meski harus membayar pinjaman setiap bulan, mereka punya kemampuan menahan diri untuk tidak menjual propertinya. Hal ini terkait dengan parameter selanjutnya, yaitu forced sale.

"Kalau mereka kuat, mereka tidak perlu menjual properti," ujarnya.

Kelima, property loan dan overall loan.

"Property loan rata-rata 15 persen dari keseluruhan pinjaman dan Non Performing Loan (NPL)-nya kurang lebih tiga sampai empat persen. Kalau ada apa-apa di property loan, tidak akan mengakibatkan ekonomi guncang," imbuhnya.

Menurut Ishak, parameter terakhir adalah dasar ekonomi yang buruk. Jika bubble di Amerika Serikat terjadi ketika ekonominya tidak bertumbuh, bahkan minus, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar antara 5,6 persen sampai 6,2 persen.

Indonesia, tuturnya, juga masih jauh dari bubble properti yang ditandai dengan melonjaknya harga perumahan akibat meningkatnya permintaan dan spekulasi.

"Kenaikan harga itu diibaratkan seperti gelembung udara yang terus membesar. Pada titik tertentu permintaan akan berhenti atau terjadi kelebihan pasokan rumah sehingga harga mulai menurun. Inilah yang kemudian diartikan gelembung mulai menyusut," ucapnya.

"Kalau kita lihat, Indonesia akan bubble tidak, semua parameter yang ada menyatakan tidak bisa bubble," ujar Ishak.

"Yang ada itu over value," tambahnya.

Karena itulah, Ishak menjelaskan, bahwa Sinar Mas Land masih optimistis denggan perkembangan properti di 2014 ini.

Sumber : Kompas, Investor Daily

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita