489 Kamis, 06 Maret 2014 | 10:52:45

REI : 'Bangun Rumah Murah Bukan Untung, Malah Buntung'

REI : 'Bangun Rumah Murah Bukan Untung, Malah Buntung'

Sosok pengembang properti selalu identik dengan pengusaha sukses yang mudah meraup keuntungan hingga ratusan persen. Eddy, beserta Sekjen DPP REI Hari Raharta Sudrajat, dan Wakil Ketua Umum REI Bidang Pembiayaan dan Perbankan Preadi Ekarto, satu suara mengungkapkan bahwa tidak selamanya pengembang meraup keuntungan besar. Bahkan, sebagian besar pengembang perumahan bersubsidi atau rumah murah yang tergabung dalam DPP REI justeru mengalami kerugian.

"REI ini ada anggota yang memang khusus membangun proyek besar, dan ada yang membangun untuk masyarakat menengah bawah. Sebagian besar membangun rumah MBR. Ternyata, apapun kebijakan yang ada dari pemerintah, anggota REI tetap membangun," ujar Eddy.

Eddy juga mengatakan, bahwa REI sudah menargetkan pembangunan 120.000 unit rumah tapak dengan harga terjangkau tahun ini. Namun, belum tentu ke-120.000 unit tersebut sepenuhnya bisa dibeli dengan memanfaatkan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Hal ini terjadi lantaran ada sedikit selisih harga karena kondisi pasar yang tidak mendukung.

Wakil Ketua Umum REI Bidang Pembiayaan dan Perbankan Preadi Ekarto menimpali pernyataan Eddy. Menurut dia, rumor bahwa pengembang bisa untung 300 sampai 400 persen itu tidak mungkin, terutama untuk pengembang rumah bersubsidi.

"Komponen harga rumah itu, bangunan 50 persen dan tanah, serta sarana 50 persen. Bangunan dibuat orang, kita bisa dapat untung dari sisi tanah. Keuntungan 300 persen itu tidak mungkin untuk pengembang. Yang bisa untuk sebesar itu malah konsumen. Itu kalau rumah sederhana," kata Preadi.

Di sisi lain, harga rumah bersubsidi juga sudah dipatok oleh pemerintah. Mau tak mau, pengembang REI yang membangun rumah bersubsidi harus mengikuti patokan harga itu. Preadi mengatakan, sama seperti alasan pengembang lainnya, meningkatnya harga tanah membuat jumlah rumah bersubsidi yang mampu dibangun kini semakin sedikit.

"Di tempat saya ada 50 hektar. Setelah dibangun 30 hektar untuk rumah subsidi, berubah bentuk menjadi komersial," ujarnya.

Seyogianya, lanjut Preadi, keuntungan bisa diraih jika pada periode atau proyek selanjutnya ia bisa membangun dengan jumlah yang sama. Sayangnya, dengan peningkatan harga, Preadi justeru hanya mampu membangun 10 hektar.

"Saya tidak untung, malah buntung. Pengembang, terutama pengembang rumah sederhana, tidak untung, tapi rugi," ujarnya

Pengembang punya cara tersendiri untuk bertahan dari kerugian setelah membangun rumah bersubsidi atau rumah murah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Meskipun biaya pembangunan semakin tinggi dan harga rumah bersubsidi telah dipatok pemerintah, pengembang bisa mendapat keuntungan lewat penjualan hunian komersial.

"Pengembang bisa survive, tapi sayang, dia pasti menjual produk yang di luar FLPP," ujar Sekretaris Jenderal DPP REI (Realestat Indonesia) Hari Raharta Sudrajat di acara bincang-bincang DPP REI, Rabu (5/3/2014).

Melalui komentar-komentar yang dilontarkan oleh para pengembang DPP REI itu terlihat, bahwa pengembang sangat membutuhkan aksi nyata dukungan pemerintah. Walaupun hal itu sebetulnya pernah diutarakan oleh Staf Kelompok Keahlian Perumahan dan Permukiman SAPPK-ITB, dan anggota Koalisi Peduli Perumahan dan Permukiman untuk Rakyat (KP3R), Mohammad Jehansyah Siregar, Rabu (19/2/2014) lalu.

Jehansyah mengatakan, pemerintah memang seharusnya memimpin pembangunan.

"Public sector-led developement, government-driven developement, pembangunan yang dipimpin oleh pemerintah. Pembangunan yang dipimpin oleh sektor publik. Tidak bisa pemerintah cuma buat dokumen di atas kertas tanpa aksi di lapangan menguasai tanah, mengintegrasikan infrastruktur, tidak bisa itu. Ketika pemerintah drive the development, memang ada perbaikan pengembangan kawasan urban, tapi negara yang dulu berkembang, mereka alokasikan sebagian besar biaya dan infrastruktur itu untuk membangun area baru," kata Jehansyah.


Editor    : Latief
Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita