192 Senin, 17 Februari 2014 | 10:50:18

Konsumen Properti Semakin Kritis!

Konsumen Properti Semakin Kritis!

Lemahnya perlindungan konsumen properti di Indonesia tidak sebanding dengan posisi tawar pengembang yang gencar memasarkan produk terbaru. Gimmick menarik berupa rayuan keuntungan investasi, iming-iming harga murah, jargon "besok harga naik", gratifikasi kendaraan bermotor, hingga cashback seharusnya mampu membuat konsumen properti tertarik.

Namun ternyata, hal tersebut belum tentu sukses, dan tidak semudah itu memikat hati konsumen. Konsumen properti di Indonesia kini sudah semakin kritis dan belajar dari pengalaman. Mereka pun punya pertimbangannya sendiri.

Ini terlihat di pameran Indonesia Properti Expo 2014 yang berlangsung dari Sabtu(15/2/2014) dan berakhir Minggu (16/2/2014) yang diadakan di Jakarta Convention Center, Umumnya, konsumen sudah tahu produk incaran, kisaran harga, hingga metode pembiayaan yang akan mereka gunakan. Mereka pun sudah berancang-ancang dengan mengecek latar belakang pengembang yang menawarkan produk properti tersebut.

Seorang pengunjung bernama Lina dari Kayu Manis, Matraman, Jakarta bercerita bahwa sekitar awal tahun 1990-an, saudaranya pernah tertipu pengembang. Setelah membayar Rp 20 juta, sang pengembang tidak meneruskan pembangunannya dan berdalih mengalami pailit. Sayangnya, Lina tidak ingat nama dan perusahaan sang pengembang. Namun, sejak pengalaman tersebut, Lina pun enggan membeli properti yang belum siap huni (ready stock).

"Minimal, pondasi sudah terbangun. Tapi lebih baik kalau perumahannya sudah mulai ditempati orang. Saya merasa lebih yakin," ujarnya.

Waspada, tapi tidak anti properti inden
Lina memang tidak sendirian. Beberapa calon konsumen lain juga memilih properti siap huni. Rata-rata, mereka merasa properti siap huni lebih praktis dan aman. Sementara itu, cukup banyak juga calon konsumen properti lain yang tidak keberatan melakukan akad jual-beli, meski rumahnya belum terbangun. Mereka mempertimbangkan, berbagai penawaran pengembang ketika menawarkan unit inden bisa mereka manfaatkan. Mereka pun umumnya memilih pengembang terkenal.

Ega, seorang pengunjung yang kini masih mengontrak di Bekasi bersama suaminya, Firman, tidak keberatan membeli properti inden. Bahkan, mereka sudah melakukannya di perumahan Jl Transyogi, Cibubur. Menurut Ega, selama harga masih terjangkau dan pengembangnya bisa mempertanggungjawabkan produk mereka, properti inden justru menarik.

"Kami merasa tidak masalah, karena uang mukanya bisa kami cicil dalam waktu yang lebih panjang," ujar Ega.

Hal senada disampaikan oleh Mia. Saat ini, Mia dan keluarganya tengah mencari rumah di kawasan BSD City dengan harga sekitar Rp 1 miliar. Menurutnya, pengembangan area yang lengkap, dengan tolok ukur tersedianya sekolah, pusat perbelanjaan, dan bahkan perkantoran sangat menarik. Karena itu, jika ada properti inden di lokasi tersebut, dia tidak serta-merta menolak. "Selama pengembangnya bonafid, tidak apa-apa. Kalau rekam jejaknya buru atau mungkin pengembang baru, saya tidak mau," ujarnya.

Suami-istri Syaiful dan Silvy pun tidak keberatan membeli properti inden. Pasangan yang ingin membeli properti untuk investasi di daerah Bogor tersebut mengaku berkecimpung di dunia perbankan dan tahu persis regulasi menyangkut properti. Mereka bisa berhati-hati dalam menghadapi penawaran properti. Selain itu, rekam jejak positif dari pengembang yang menawarkan produk properti, lebih mudah mereka percayai.

Begitu pula Tiwi yang kini sudah tinggal di daerah Jatibening. Tiwi lebih yakin dengan hubungan interpersonal. Keinginannya berinvestasi properti di daerah Sawangan, Depok, mengharuskannya berinteraksi dengan pengembang-pengembang yang belum dikenal. Menurut Tiwi, kemampuan membaca kepribadian orang dan potensi lokasi properti harus dikuasai oleh calon konsumen properti.

"Memang tidak apa-apa (pengembang belum terkenal). Meski perusahaannya masih baru, namun cobalah bertemu langsung. Nilai sendiri pribadi pemilik perusahaannya. Lihat juga lokasinya. Kalau lokasinya sudah padat penduduk, bagaimana mau dikembangkan lagi?" tekannya.

Editor    : Hilda B Alexander
Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita