50 Kamis, 23 Januari 2014 | 14:59:22

Di Semua Lini, Properti Indonesia Disesaki Investor Asing!

Di Semua Lini, Properti Indonesia Disesaki Investor Asing!

Investasi asing di sektor properti Indonesia memang sudah berlangsung sejak lama, bahkan sejak kurun 1975. Namun, pertumbuhan investasi besar-besaran dalam satu dekade terakhir, baru terjadi pasca-krisis 2008. Memang, meskipun tak memiliki angka pasti, National Director Head of Strategic Consulting Jones Lang LaSalle, Vivin Harsanto, mengungkapkan bahwa investasi asing di sektor properti Indonesia terus bertumbuh dari tahun ke tahun dalam lima tahun terakhir.

"Indonesia menjadi destinasi investasi properti paling menarik di Asia Tenggara, bahkan Asia Pasifik. Indikasinya, banyak negara mencari lahan untuk dikembangkan atau gedung-gedung yang diincar untuk diakuisisi," papar Vivin, Kamis (23/1/2014).

Tahun ini pun, saat pertumbuhan pasar melambat di hampir semua sektor properti, investor asing tetap memasukkan Indonesia dalam radar utama mereka. Investor mancanegara yang aktif melirik dan merealisasikan investasinya tersebut berasal dari China, Jepang, dan Singapura.

Menurut Vivin, ada dua investor China yang akan membangun properti komersial perkantoran dan kondominium, masing-masing dengan bisnis utama properti alias developer. Mereka merupakan pengembang yang menempati urutan enam dan sepuluh besar di negaranya.

Demikian halnya dengan dua investor asal Jepang. Mereka merupakan pengembang utama di negaranya. Namun, berbeda dengan China yang memilih pusat kota Jakarta sebagai ladang investasi, pengembang Jepang justru membidik kawasan pinggiran Jakarta.

"Mereka akan membuka lahan untuk dikembangkan sebagai kawasan industri, perumahan dan komersial. Baik investor China maupun Jepang, mereka sudah mendapat mitra lokal dan tinggal melakukan eksekusi," imbuh Vivin.

Sementara itu, investor Singapura, yakni GIC Investment, telah mengakuisisi satu gedung perkantoran dalam area pengembangan St Regis, Gatot Subroto, Jakarta. GIC merupakan salah satu perusahaan pengelola dana terkemuka di Singapura. Melalui afiliasinya mereka mengakuisisi gedung perkantoran 47 lantai St Regis.

"Selain GIC, ada banyak pengembang dan investor asal Singapura yang melirik Indonesia. Mereka memilih dua opsi membangun dari nol dalam arti bermitra dengan pengembang lokal (green field) dan akuisisi gedung jadi," cetus Vivin.

Biasanya, investor yang memilih opsi membangun, adalah pengembang. Sebaliknya, investor yang mengakuisisi adalah lembaga investasi.

Investasi dalam negeri
Sedangkan aktivitas investor dalam negeri masih dikuasai pengembang besar. Mereka adalah Sinarmas Land Group, Ciputra Group, Lippo Group, dan Agung Podomoro Group.

Hanya, lanjut Vivin, untuk saat ini mereka lebih berhati-hati. Tidak seperti dua atau tiga tahun lalu di mana ekspansi bisnis terjadi secara jor-joran. Selain itu, kecenderungan untuk lebih meningkatkan pendapatan berulang (recurring income) akan menjadi prioritas utama.

Perubahan orientasi bisnis tersebut terjadi pada pengembang yang sebelumnya puas hanya mengandalkan development income (pendapatan penjualan).

"Sinarmas Land Group merupakan satu di antara pengembang yang melakukan perubahan dan diversifikasi portofolio," ujar Vivin.

Sedangkan Lippo Group justru akan lebih aktif mengakuisisi gedung-gedung, khususnya pusat belanja. Hal itu dilakukan untuk menambah dan memperkuat recurring income mereka.

Editor    : Latief
Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Terkini

Selengkapnya

Referensi

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita