124 Senin, 13 Januari 2014 | 11:11:15

Nyaris, Separuh Pasokan Apartemen Dibeli Investor

Nyaris, Separuh Pasokan Apartemen Dibeli Investor

Jumlah pembeli apartemen strata dengan motif investasi (investor) menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Mereka membeli apartemen strata bukan sekadar lima hingga sepuluh unit, melainkan ratusan unit. Fenomena tersebut terus berlanjut. Bahkan, saat pasar properti melemah, aksi borong tak dapat dihindari. Green Palace Residence di Cikarang, Bekasi, yang dikembangkan PT Pudjiadi Prestige Tbk, adalah contoh apartemen yang tak luput dari jamahan investor.

Menurut Presiden Direktur PT Pudjiadi Prestige Tbk, Damian Pudjiadi, dari total jumlah 320 unit yang terjual, 100 unit di antaranya berpindah tangan ke satu investor.

"Sisanya, terbagi rata oleh konsumen individual dan konsumen korporat. Mereka membeli apartemen ini secara tunai bertahap. Mereka memborong sebanyak itu untuk disewakan kembali dengan mengharap capital gain tinggi," ujar Damian.

Hal serupa juga terjadi di Grand Dhika City yang digarap Adhi Persada Properti. Direktur Utama PT Adhi Persada Properti, Ipuk Nimpuno, mengungkapkan, satu konsumen bisa membeli lima hingga sepuluh unit apartemen Grand Dhika City.

"Dari total 900 unit Cempaka Tower Grand Dhika City, kami berhasil menjual 300 unit. Komposisi pembeli investor dan pengguna akhir seimbang, 50:50," ungkap Ipuk.

Sementara itu, apartemen One Sentosa Residence dikuasai pembeli investor sebanyak 30 persen hingga 40 persen dari 35 persen unit terserap dari total 750 unit yang dipasarkan.

Direktur Utama Cenas Rayaland sebagai pengembang One Sentosa Residence, Darta Chandra, mengatakan, para pembeli investor tersebut berasal dari Jakarta, Bekasi, dan kota-kota lainnya.

Aktivitas transaksi jual beli apartemen oleh investor, khususnya eksisting, secara dramatis memang memperlihatkan tren meningkat. Fenomena tersebut justru menimbulkan kekhawatiran.

Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, aksi borong oleh investor bisa membahayakan. Hal ini patut diwaspadai. Terlebih bila tidak disertai dengan aktifnya transaksi di pasar sewa (leasing).

"Pasokan apartemen memang terserap maksimal, namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah unit-unit tersebut terhuni? Tingkat hunian belum tentu paralel dengan tingkat serapan (net take up)," ujar Ferry.

Tingkat penjualan, aku Ferry, meroket sejak 2008 silam. Jika saat itu menyisakan 20 persen unit tidak terjual dari total 60.000 unit, atau terserap 80 persen, lima tahun kemudian terus menciut hingga hanya menyisakan 7 persen tidak terjual dari total 115.000 unit atau terserap 93 persen. Sementara itu, pasokan baru hingga 2013 lalu sudah terserap 74 persen.

Kondisi pasar apartemen yang disewakan justru menunjukkan tren menurun. Dari sebelumnya 79,5 persen menjadi 72,6 persen pada 2013.

Lebih jauh Ferry menekankan kondisi pasar yang bakal terbentuk bila pasokan apartemen, baik eksisting maupun baru, tidak terhuni. Gedung-gedung apartemen akan kosong melompong, investor kesulitan menyewakan apartemennya karena harga yang terbentuk sudah terlalu tinggi dan sulit diakses oleh penyewa. Pada gilirannya, tragedi Dubai berpotensi berulang di Jakarta.

"Kalau itu terjadi, akibatnya harga akan mengalami tekanan dan pasar apartemen secara umum menjadi terpuruk," tandas Ferry seraya menambahkan, apartemen yang tingkat huniannya tidak mencapai 50 persen berada di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, dan Pluit, Jakarta Utara.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita