78 Rabu, 11 Desember 2013 | 17:17:19

Di Asia, Properti Realestat Benar-benar Meraja....

Di Asia, Properti Realestat Benar-benar Meraja....

Tidak seperti aset-aset lainnya, sektor properti realestat di Asia tahun ini nyaris "tak tergoyahkan", khususnya menghadapi persoalan stimulus AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga. Hal itu disebabkan oleh meningkatnya sebagian besar dana investasi milik negara dan modal institusional yang diarahkan ke pasar Asia, serta volume modal Asia dalam jumlah besar dan diekspor dari China, Singapura, Korea Selatan dalam bentuk aset realestat di seluruh wilayah Asia.

Demikian laporan studi sektor realestat Emerging Trends in Real Estate Asia Pasifik 2014 yang diterbitkan bersama-sama oleh Urban Land Institute (ULI) dan PwC. Berdasarkan kekuatan dana investasi itulah, menurut riset tersebut, dasar pertumbuhan sektor realestat tetap menguat pada 2014 mendatang, terutama seiring persaingan ketat di pasar utama yang berhasil meningkatkan popularitas sektor properti dan pasar sekunder untuk investasi.

"Meskipun pasar yang menguat di Asia mengakibatkan kenaikan harga dan hasil lebih rendah untuk produk inti, investor bereaksi dengan tidak menarik investasinya dari sektor realestat di Asia. Mereka malah menemukan cara baru untuk membuat harga bisa berhasil ditekan, termasuk fokus pada jenis properti khusus seperti rumah perawatan manula atau logistik, serta mencari peluang lainnya di pasar emerging," ujar Ketua ULI Asia Utara Raymond Chow dalam paparan riset yang dikirimkan di Jakarta, Rabu (10/12/2013).

Pemimpin Pajak Real Estate Asia Pacific di PwC Hong Kong, K K So, mengatakan bahwa beberapa pemain besar properti yang telah membuka kantor mereka di Asia dalam rangka mendapatkan akses terhadap penawaran langsung, memilih untuk melakukan investasi bersama di lokasi pembangunan. Hal ini mereka lakukan demi mengamankan aset yang, bisa jadi, tidak tersedia atau malah terlalu mahal.

Beberapa konsultan properti memang telah mencatat, sektor perkantoran Jakarta memang mencapai puncaknya pada tiga tahun terakhir. Meski demikian, bukan berarti tak terjadi penurunan sama sekali. Sektor perkantoran bahkan sempat melorot pada kuartal II 2013.

Hasil riset Colliers International Indonesia menunjukkan per Juli-September lalu, ruang perkantoran yang terserap hanya seluas 111.000 meter persegi. Padahal kuartal sebelumnya sebanyak 300.000-400.000 m2 ruang kantor yang terserap.

"Ini sesuatu yang berangkat dari praktik normal pada dana institusional yang didorong oleh kebutuhan. Kami juga melihat adanya kecenderungan investor memilih jendela investasi yang lebih terbuka," ujar So.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita