150 Selasa, 03 Desember 2013 | 15:58:44

Rupiah Melorot, Kado Pahit buat Pengembang!

Rupiah Melorot, Kado Pahit buat Pengembang!

Beban berat seolah tak henti bertubi-tubi menghantam pelaku bisnis dan industri properti. Lepas kenaikan BI Rate sebesar 175 basis poin menjadi 7,5 persen, pengetatan KPR inden, dan loan to value (LTV), kini mereka dihantam perkasanya nilai tukar dollar AS terhadap rupiah menjadi Rp 11.870 per 3 Desember.

Depresiasi rupiah sebesar 22 persen tersebut seolah menjadi kado pahit buat pengembang. Demikian dikatakan Tanto Kurniawan, Presiden Komisaris PT Grahabuana Cikarang yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Utama PT Jababeka Tbk.

Menurut Tanto, empat kado pahit itu sanggup membuat pengembang ketar-ketir. Semuanya menjadi serba mahal. BI Rate naik, suku bunga KPR naik, harga material bangunan juga melonjak. Dampak buruk terjadi pada dua sisi, pengembang dan konsumen.

"Beban kami sebagai pengembang dalam bentuk suku bunga pinjaman bank untuk konstruksi, sementara untuk konsumen adalah kenaikan suku bunga KPR. Ongkos produksi menjadi tinggi dan konsumen harus berpikir ulang atau mempertimbangkan kembali membeli rumah. Padahal, suku bunga pinjaman konstruksi tidak bisa dibebankan kepada konsumen," papar Tanto.

Hal senada diutarakan Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Eddy Hussy. Ia menyatakan, perkasanya dollar AS terhadap rupiah sangat memengaruhi kinerja dan produktivitas para pengembang.

"Melorotnya rupiah berpotensi pembelian properti menjadi tertunda. Investor akan bersikap wait and see, berpikir ulang untuk investasi. Jelas hal tersebut menimbulkan ketidakpastian dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja kami," ujar Eddy.

Kendati demikian, lanjutnya, target REI membangun rumah tidak akan dikoreksi. Target masih konsisten berada pada angka 220.000 unit pada 2014. Jika ditambah dengan target asosiasi di luar REI, maka 400.000 rumah terbangun.

Sementara itu, Tanto lebih konservatif dalam menetapkan target. Menurut dia, PT Jababeka Tbk pada 2014 lebih memilih peran sebagai pemain aman.

"Kami optimistis. Namun, kadar optimismenya jauh berkurang, ketimbang negative growth. Kami konservatif, tidak muluk-muluk, tetapi bisa zero growth," tandas Tanto.

Baik Tanto maupun Eddy berharap pemerintah segera dapat menstabilkan nilai rupiah. Sebab, jika gejolak rupiah dibiarkan terlalu lama, maka sektor properti akan mengalami gangguan hebat. "Ini karena properti memimpin 150 industri lainnya yang secara langsung dapat terpapar gangguan juga," imbuh Eddy.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita