187 Kamis, 14 November 2013 | 17:18:43

Pengembang Beralih Bidik Segmen Menengah-Bawah

Pengembang Beralih Bidik Segmen Menengah-Bawah

Pengembang pada tahun 2014 mendatang diperkirakan bakal beralih untuk membidik segmen menengah-bawah dalam rangka mengantisipasi perlambatan pasar properti.

"Pasar properti sudah terlalu tinggi dan cenderung jenuh untuk segmen menengah atas, relatif mulai bergeser ke segmen menengah-bawah seiring mulai bangkitnya segmen menengah perkotaan," kata Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda.

Menurut Ali, hal tersebut merupakan salah satu strategi yang diterapkan di tengah kondisi untuk mengantisipasi pasar properti yang ada. Ia mengungkapkan, para pengembang diprediksi bakal mulai membidik segmen menengah-bawah baik untuk apartemen maupun rumah tapak.

"Memasuki akhir tahun 2013, diperkirakan pasar akan mulai bergeser untuk harga properti antara Rp500 juta - Rp1 miliar," ujarnya.

Menurut Ali Tranghanda, ukuran apartemen dan tipe rumah pun akan diperkecil agar segmen menengah masih mampu untuk membeli. Selain itu, ujar dia, di segmen menengah-atas banyak pengembang yang melakukan pengembangan tipe dibawah 70 meter persegi. Strategi lainnya yang diperkirakan disiapkan pengembang pada 2014 adalah memperpanjang waktu cicilan uang muka menjadi lebih panjang sehingga daya beli konsumen pun tetap terjaga.

Dengan kenaikan tingkat suku bunga KPR, diperkirakan para pengembang akan melakukan subsidi terhadap kenaikan yang ada sehingga dalam jangka waktu pendek akan meringankan konsumen dalam mencicil.

"Sebenarnya subsidi tersebut bisa jadi merupakan bentuk lain dari pemberian diskon oleh pengembang," katanya.

Sebelumnya, Indonesia Property Watch mengingatkan perlambatan ekonomi di Indonesia sebagai dampak krisis global berpotensi menurunkan permintaan di sektor properti termasuk perumahan sehingga pengembang dan konsumen harus bijaksana menyikapinya.

"Selain adanya perlambatan pertumbuhan harga properti, kami memperhitungkan adanya kemungkinan penurunan permintaan sebesar minimal 20 persen di tahun 2014," kata Ali Tranghanda.

Menurut Ali, hal tersebut disebabkan beragam faktor antara lain kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), perlambatan daya beli dan pemberlakuan aturan baru dari Bank Indonesia terkait pembiayaan sektor properti. Hal itu, lanjut dia, akan berdampak terhadap pertumbuhan properti yang akan terus melambat dengan pertumbuhan diperkirakan sebesar 25 persen pada tahun 2014. (ant/hrb)

Sumber : Investor Daily

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita