146 Kamis, 07 November 2013 | 13:32:49

Nasib Kelas \'Tanggung\' Disaat Harga Apartemen Menggila

Nasib Kelas \'Tanggung\' Disaat Harga Apartemen Menggila

Pasokan hunian vertikal atau apartemen di Jakarta tidak mengakomodir kemampuan daya beli untuk masyarakat kelas menengah 'tanggung' yang daya belinya Rp 150-250 juta. Kenyataannya hunian apartemen di Jakarta saat ini berkisar antara Rp 300 jutaan sampai Rp 500 jutaan. Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan sebagian besar para pekerja formal di perkantoran tergolong dalam segmen kelas menengah 'tanggung'

"Membeli apartemen menengah di perkotaan tidak mampu. Dengan daya beli 'tanggung', misalkan mereka hanya membeli rumah dengan kisaran harga Rp 150-250 jutaan dengan jarak dan waktu tempuh yang jauh dari tempat kerja (pinggir kota)," kata Ali dalam situsnya, Kamis (7/11/2013)

Padahal menurutnya Ali, dahulu ada proyek-proyek program 1.000 tower yang diperuntukan untuk segmen menengah, ternyata sekarang sudah berubah menjadi apartemen-apartemen dengan kisaran harga di atas Rp 300 jutaan.

"Kenyataan di lapangan saat ini, tidak hanya segmen bawah yang kesulitan mendapatkan hunian, namun segmen menengah yang ‘tanggung’ karena baru naik kelas dari segmen menengah bawah pun, ternyata kesulitan juga untuk memiliki hunian," katanya

Ali mengakui para konsumen kelas menengah 'tanggung' ini akhirnya membiarkan rumah yang mereka terlanjur beli menjadi obyek investasi dengan menyewakannya. Saat bersamaan mereka harus menyewa kost di pusat kota karena lebih dekat dengan tempat pekerjaan.

"Jadi jangan heran banyak juga rumah segmen menengah bawah yang dibiarkan kosong seolah-olah yang membeli bukanlah end user, namun sebenarnya mereka terkendala juga dari faktor jarak dan biaya transportasi dan tidak adanya pasokan apartemen yang sesuai daya beli kaum menengah 'tanggung' ini. Dan jumlahnya diperkirakan sangat banyak," katanya


Selain itu, Ali mengingatkan masyarakat kelas menengah ‘tanggung’ yang bekerja di perkotaan seharusnya dapat cepat mengubah mindset hunian untuk dipaksakan siap tinggal di hunian apartemen karena tuntutan perkembangan, daripada memaksakan membeli rumah tapak di pinggir kota.

"Jadi tidak lagi cuma berpikir untuk membeli hunian yang ada ‘tanah’nya atau rumah landed. Namun di sisi lain pemerintah harus siap memasok apartemen untuk kaum pekerja perkantoran atau segmen menengah 'tanggung' ini," katanya.

Ia mendesak agara Undang-undang Rusun seharusnya segera diberlakukan dengan meminta alokasi dari pengembang untuk membangun hunian menengah yang terjangkau. Pemerintah daerah sebaiknya tidak terlalu banyak melibatkan pihak swasta karena para pengembang swasta pasti akan menyasar segmen yang lebih menguntungkan.

"Pihak Pemprov DKI Jakarta seharusnya lebih memperhatikan tidak hanya untuk segmen informal namun yang terpenting adalah kaum pekerja di segmen menengah ‘tanggung’ yang saat ini sebagian besar masih sebagai kaum komuter yang setiap hari bolak balik ke Jakarta dengan waktu tempuh yang tidak produktif," seru Ali.

Sumber : Detik

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita