114 Kamis, 10 Oktober 2013 | 09:46:47

Pengembang Antisipasi Perlambatan Properti di 2014

Pengembang Antisipasi Perlambatan Properti di 2014

Tahun depan, sektor properti diperkirakan mengahadapi sejumlah tekanan. Buntutnya, sekalipun masih mampu bertumbuh, persentase pertumbuhannya lebih kecil jika dibandingkan tahun 2013.

Karena itu, para pengembang harus mampu mengantisipasi perlambatan di sektor properti tersebut. Setidaknya, pengembang lebih jeli dalam mengembangkan sebuah proyek seiring dengan kondisi pasar yang ada.

Demikian rangkuman pendapat Presiden Direktur GKA Land Dedi Setiadi, Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit, dan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda. Ketiganya dihubungi Investor Daily secara terpisah, di Jakarta, Rabu (9/10).

"Tahun 2014, pasar tetap baik, para enduser bakal lebih besar daripada investor. Namun, jika dibandingkan 2013, bakal ada perlambatan sehingga pengembang harus lebih jeli melihat ceruk pasar yang masih potensial," ujar Panangian.

Bagi dia, para pengembang harus lebih kreatif dalam membuat trik-trik pembayaran tunai dan tunai bertahap. Serta menghindari menggoreng-goreng harga seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Hal itu karena tahun 2014 pertumbuhan properti hanya 9%, sedangkan tahun 2013 masih mampu sebesar 15%," ujarnya.

Hal senada diingatkan oleh Ali Tranghanda. Pengembang, katanya, harus punya strategi dalam menggantisipasi perlambatan. Salah satu jurusnya, dengan lebih membuat produk yang relatif sesuai pasar.

Selain itu, lanjut dia, para pengembang bisa membidik kelompok menengah dan enduser sebagai target pasar dari produk yang dikembangkan.

"Pangsa penjualan bisa turun 25%. Pertumbuhan 2013 masih bisa mencapai 35%, tapi 2014 diperkirakan makin menurun sejalan dengan perlambatan yang ada, pertumbuhan ditaksir 20%," kata Ali.

Dia melihat, daya beli di segmen menengah bisa naik karena adanya pembelanjaan par tai politik. Tahun 2014, Indonesia bakal menggelar pemilihan umum legislatif dan pemilihan umum presiden.

Dedi Setiadi menuturkan, pertumbuhan properti yang diperkirakan melambat pada 2014, membuat para pengembang menggencarkan aktivitas pada 2013. Banyak para pengembang yang melakukan pemancangan tiang pertama dan penutupan atap bangunan pada tahun ini.

"Pelambatan pada 2014 bisa terjadi karena beberapa faktor seperti suku bunga dan kondisi politik 2014," ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, sektor properti pada 2013 menghadapi sejumlah tekanan dari faktor eksternal. Kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate sehingga perbankan swasta dan BUMN meningkatkan suku bunga, mempengaruhi kinerja para pengembang properti.

Lalu, kebijakan revisi loan to value (LTV) BI yang menyebabkan uang muka menjadi 30% untuk rumah pertama dan 40% untuk rumah kedua. Aturan LTV tersebut berlaku mulai 30 September 2013.

Di sisi lain, kebijakan yang meminta pengembang tidak boleh memberlakukan sistem tunggu (indent) bagi rumah kedua, juga mempengaruhi sektor properti. Sedangkan iklim politik pada 2014, diperkirakan juga mempengaruhi bisnis properti.

"Orang-orang menjadi wait and see dalam membeli rumah. Namun, jika proses politik berjalan mulus, pada 2015 pertumbuhan properti bisa mencapai sebesar 20%,” kata Dedi Setiadi.

Salah satu yang masih membuat sektor properti bertumbuh adalah kebutuhan rumah tinggal yang masih cukup besar di Indonesia. Setiap tahun, Real Estat Indonesia (REI) memperkirakan ada kebu tuhan sebanyak 700 ribu rumah. Sedangkan pasokan yang mampu disediakan para pengembang tidak lebih dari separuhnya.

Karena itu, tingkat defisit rumah (backlog) terus bertambah setiap tahunnya. Hingga pertengahan 2013, backlog mencapai sebanyak 15 juta rumah.

Penulis: ED/FER

Sumber: Investor Daily

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita