133 Selasa, 15 Oktober 2013 | 09:42:07

Aktivitas Konstruksi Perkantoran Indonesia Belum Menunjukkan

Aktivitas Konstruksi Perkantoran Indonesia Belum Menunjukkan

Konsultan properti Colliers International menyatakan, perlambatan ekonomi yang terjadi di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia masih belum terlalu berdampak kepada aktivitas konstruksi bangunan perkantoran di Jakarta.

"Perlambatan ekonomi belum memberi dampak jangka pendek kepada aktivitas konstruksi," kata Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (12/10).

Menurut Ferry, hal itu dapat diindikasikan dari masih berlangsungnya beragam proyek konstruksi bangunan perkantoran seperti di Jalan Gatot Subroto, kawasan Mega Kuningan, dan ruas Sudirman.

Meski terjadi kekurangan pasokan lahan, ujar dia, aktivitas konstruksi di Sudirman dinilai juga akan berlangsung dengan adanya rencana pembongkaran bangunan lama untuk digantikan dengan bangunan baru. "Showroom Toyota di Jalan Sudirman akan digantikan dengan bangunan tinggi dan modern," katanya.

Sampai sejauh ini, diperkirakan terdapat 74% yang telah mulai dibangun di daerah sentra bisnis ibu kota.

Sedangkan mayoritas atau 88% dari pasokan baru yang diagendakan beroperasi tahun 2014-2015 sudah mulai memasuki tahap konstruksi.

Sebelumnya, Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) meminta adanya dukungan kemudahan dari pemerintah sebagai dampak melemahnya rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat yang terjadi akhir-akhir ini.

"Melemahnya rupiah berimbas pada kenaikan harga berbagai material utama konstruksi lebih dari 21 persen," kata Kepala LPJKN Tri Widjajanto.

Menurut dia, kenaikan harga tersebut tidak hanya terjadi pada material utama konstruksi tetapi juga berdampak kepada bidang lainnya yang terkait seperti transportasi pengangkutan material.

Ia mengemukakan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS dapat disebut sebagai "guncangan" ketiga yang terjadi sepanjang tahun 2013 setelah meningkatnya UMR dan kenaikan harga BBM bersubsidi.

"Kami masih bisa bertahan dengan kenaikan BBM dan UMR, tetapi ini ditambah pelemahan rupiah," katanya.

Sebagaimana diberitakan, Bank Indonesia merevisi ke bawah perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini menjadi 5,5-5,9%, dari perkiraan semula 5,8-6,2%.

Dari sisi domestik, perlambatan ekonomi tersebut terlihat dari berbagai hasil survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia, seperti survei penjualan eceran dan survei keyakinan konsumen yang mengindikasikan bahwa konsumsi rumah tangga cenderung melambat pada Semester II 2013.

Bank Indonesia juga menilai perlambatan ekonomi dan ketidakpastian keuangan global ke depan masih berlanjut.

Penulis: /NAD

Sumber:Antara

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita