170 Selasa, 19 November 2013 | 09:54:28

BTN Tetap Fokus di Perumahan

BTN Tetap Fokus di Perumahan

Sesuai dengan misi awal, PT BTN Tbk tetap memfokuskan kegiatan pada bisnis perumahan. Saat ini masih ada 13,6 juta backlog atau akumulasi permintaan rumah dari tahun ke tahun yang belum bisa disediakan. Sedang setiap tahun, setidkanya ada tambahan 400.000 permintaan rumah yang tidak bisa dipenuhi. Meski tahun depan masih diliputi ketidakpastian, BTN tetap mencari solusi agar kredit perumahan tetap bertumbuh guna memenuhi permintaan perumahan rakyat yang terus meningkat.

"Di Australia, kekurangan rumah hanya 500.000. Tapi, kondisi itu sudah cukup menghebohkan. Para investor masuk untuk ikut membangun perumahan," kata Dirut PT BTN Tbk Maryono saat membuka seminar bertopik "Outlook Ekonomi 2014: Menghadapi Ketidakstabilan Ekonomi 2014" di Hotel Four Seasons, Jakarta, Senin (18/11).

Seminar yang menghadirkan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad sebagai keynote speaker ini dihadiri para pengembang dan bankir. Tampil sebagai pembicara dalam seminar ini adalah Wakil Menkeu Bambang Brojonegoro, Direktur Bank Indonesia Bidang Kebijakan Ekonomi dan Moneter, Doddy Zulverdi, Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Setyo Maharso, Direktur Bursa Efek Indonesia Samsul Hidayat, dan ekonom A Prasetyantoko.

Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso mengatakan setiap tahun ada kebutuhan rumah baru 780.000. Dari permintaan sebesar ini, hanya sedikit yang bisa dipenuhi, sehingga backlog perumahan terus meningkat. "Pengamat memprediksi backlog sudah menembus 15 juta," kata Setyo.

Setyo menilai pemerintah tidak punya niat membangun perumahan rakyat. Buktinya, dari 460.000 rumah yang dibangun tahun ini, hanya 5 persen yang dibangun pemerintah. Sisanya, 95 persen dibangun swasta. Dari jumlah itu, 60 persen dibangun anggota REI untuk masyarakat menengah bawah. Untuk itu, anggota REI membutuhkan topangan kredit perbankan dengan tingkat suku bunga yang terjangkau.

"Masyarakat berpengasilan rendah harus menjadi perhatian karena mereka sulit membeli rumah," kata Setyo.

Dia menegaskan, perumahan rakyat adalah amanat konstitusi. Dia menyarankan agar pemerintah dan DPR menyisihkan satu-dua persen dari dana APBN untuk pembangunan perumahan rakyat.

Target 18 Persen
Maryono mengatakan kredit BTN tahun 2014 ditargetkan bertumbuh 18 persen, turun dari 25 persen tahun ini. Sedang dana pihak ketiga tahun depan ditargetkan tumbuh 23 persen, turun dari 29 persen tahun ini. "BTN akan menjaga agar NPL yang tahun ini 3,6 persen bisa turun ke level 2,7 persen tahun depan," katanya.

Penurunan pertumbuhan kredit tahun depan, kata Maryono, merupakan dampak dari kenaikan BI rate yang saat ini sudah mencapai 7,5 persen. Dia berharap, keseimbangan ekonomi makro bisa segera tercapai agar tahun depan, BI rate bisa diturunkan.

BTN tetap menjadi bank fokus, yakni bank yang memfokuskan bisnisnya pada kredit perumahan. Hingga saat ini, kata Maryono, 86 persen kredit BTN disalurkan ke sektor perumahan, yakni KPR dan konstruksi. Sisanya, 14 persen, tersalurkan ke sektor nonperumahan, yakni kredit ke UMKM, KUR, dan pengadaan bahan bangunan. Sebagai bank fokus, BTN disyaratkan memberikan kredit perumahan hingga 75 persen.

"Dengan tetap menjadi bank fokus, BTN terbebas dari kewajiban memberikan kredit ke kredit usaha kecil," kata Maryono.

Peraturan Bank Indonesia (PBI) 14 Juni 2012 memberikan penegasan bahwa bank fokus terbebas dari KUK. Dengan demikian, kredit BTN ke sektor perumahan bisa menjadi lebih besar.

Sumber : Berita Satu

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita