379 Jum'at, 26 Juni 2015 | 11:31:10

Krisis Baru Akan di Alami Sektor Properti Di Dubai

Krisis Baru Akan di Alami Sektor Properti Di Dubaimegaricos

Sektor properti di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) Saat ini dalam keadaan lampu kuning. Hal ini diketahui setelah Knight Frank (KF) menyelesaikan hasil risetnya, dan tiga orang konsultan lainnya pun mengatakan hal yang sama bahkan hasilnya lebih buruk.

Knight Frank mengatakan bahwa pada kuartal pertama di 2015 harga rumah di Dubai mengalami penurunan hingga 6,1 persen, tiga orang konsultan lainnya itu memprediksi bahwa  harga akan turun sampai 20 persen pada akhir tahun. Oleh karena itu mereka menyarankan pengembang dan institusi dalam memberi pinjaman harus bersiap-siap daripada mereka kembali terpuruk seperti krisis pada tahun 2008.

Standard & Poor’s memprediksikan pada tahun ini nilai properti di Dubai akan mengalami penurunan sampai seperlima dari sekarang, sedangkan CBRE Group dan JLL Inc memperkirakan penurunan dapat mencapai hingga 10 persen. Namun berkat kebijakan dari pembatasan pemberian kredit,  para pengembang dan bank nampaknya dapat menghadapi risiko dan diharapkan krisis yang terjadi tidak seberat kondisi pada enam tahun yang lalu. Kebijakan tesebut dinilai sudah bisa menahan spekulasi dan lebih menjamin pendapatan dari sewa.

Hambatan yang timbul pada harga rumah dalam jangka pendek ini tidak sebesar seperti yang pernah dialami sebelumnya, jelas Franck Delage, seorang direktur Standard & Poor’s untuk Eropa, Timur Tengah dan Afrika.

Pasar memang belum bisa dikatan pulih, namun koreksi yang terjadi tidak separah pada tahun 2008-2009.  Hingga saat ini pasar makin tertekan oleh terjadinya penurunan harga minyak, disamping itu  juga adanya kelebihan pasok.  Saat ini ribuan rumah dan apartemen memang masih dibangun, namun tingkat pembangunan pada saat ini sudah lebih rendah daripada kondisi enam tahun lalu.

Dari perhitungan Green, dalam tiga tahun ke depan ada sekitar 65.000 rumah yang akan dibangun. Dapat di bandingkan dengan kondisi pada satu tahun saja, misalnya ditahun 2008  bisa mencapai 45.000 unit.  Hal ini jelas saat ini pasok sedang berlebih, dari sisa pembangunan sebelumnya.
Krisis ekonomi yang membuat nilai properti Dubai terpuruk hingga mencapai 65 persen, di tahun 2013 terjadi lompatan sangat luar biasa.

Pada saat itu nilai properti langsung terdorong sampai 35 persen dan memimpin pertumbuhan pasar properti dunia. Belajar dari pengalaman, pada tahun 2014, bank sentral Uni Emirat Arab (UEA) mengeluarkan aturan-aturan dalam hal  membatasi KPR.

Pemerintah Dubai juga telah menaikkan pajak transaksi sampai  dua kali lipat.
Menurut, Matthew Green, head of UEA research CBRE. kebijakan-kebijakan tersebut walaupun membatasi pasar, namun itu adalah cara yang terbaik supaya bank tidak berlebihan dalam pemberian kredit.
Adanya kebijakan ini memang membuat permintaan melemah namun ini hanya dari pasar lokal saja, tidak sebaliknya, permintaan yang berasal  dari ekspatriat.

Menurut Craig Plumb, head of Middle East research JLL, populasi ekspatriat masih terus tumbuh dan mereka lebih menyukai untuk sewa, sehingga pasar sewa masih bisa dikatakan stabil.

Oleh sebab itulah  Green berpendapat, adanya penurunan pada  penjualan rumah nampaknya akan menjadi pintu masuk bagi otoritas keuangan untuk melihat kembali pembatasan yang sedang berjalan.

Dalam hal ini pemerintah kemungkinan akan memperbaiki kebijakan tersebut untuk menstimulasi permintaan yang berasal dari pasar lokal.

(Sumber: Bloomberg)
Sumber: housingestate

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita