385 Selasa, 23 Juni 2015 | 12:25:38

Ruang Ibadah Bagaikan Berada Didalam Goa

Ruang Ibadah Bagaikan Berada Didalam Goajurnalhajiumroh

Sebuah Masjid yang berlokasi dekat Istanbul dibangun oleh Emre Arolat Architects, menampilkan cor dinding beton dan ruang ibadah yang mirip dengan gua. Arolat menggunakan kombinasi dari batu abu-abu yang berwarna terang dan beton bertulang untuk membangun Masjid Sancaklar, yang diatur ke dalam plaza dan terdiri dari teras yang bertingkat.

Struktur bangunan seluas 700 meter persegi ini terletak di Buyukcekmece, tepatnya di pinggiran Istanbul dan terpisahkan dari lingkungan masyarakat sekitar. Adapun tujuan terpisahnya Masjid ini dengan lingkungan masyarakat adalah supaya masjid ini dapat lebih terjaga keamanannya terutama dari jalan raya yang sibuk.

Struktur bangunan Masjid tersebut tanpa ornamen ini diatur ke dalam lekukan pada lanskap, bangunan itu hanya terdiri dari susunan atap batu dan menara tinggi yang terlihat dari titik-titik tertentu di sekeliling Masjid tersebut.

"Masjid Sancaklar ini dibangun dengan tujuan untuk dapat mengatasi masalah mendasar didalam merancang masjid dengan berdasarkan dari sebuah bentuk dan berfokus hanya pada esensi ruang ibadah," demikian yang disampaikan oleh salah seorang arsitek yang menangani Masjid tersebut. Di luar masjid terdapat potongan-potongan batu yang ditempatkan di medan miring sehingga membuat barisan panjang yang berfungsi sebagai setapak yang mengarah ke gedung cekung. Rumput yang tumbuh merumbai ada di sekitar batu dan membantu mengintegrasikan antara pagar dan setapak menjadi satu lanskap yang begitu indah.

Kombinasi bangunan masjid itu terdiri dari partisi beton, dinding batu dan pagar yang cukup tinggi berfungsi untuk melindungi area kebun di tingkatan yang lebih rendah. Di sekitar kebun ini juga terdapat batu loncatan yang menggiring setiap pengunjung yang akan melewati kolam air dangkal menuju ke pintu masuk Masjid.

"Bangunan Masjid tersebut menyatu sepenuhnya dengan topografi dan dunia luar yakni sebagai salah satu bidang yang bergerak melalui lanskap, kemudian menuruni bukit dan melewati di antara dinding untu memasuki masjid. Proyek ini mengintegrasikan buatan manusia dan alam," ujar Arolat.

Bangunan Masjid terlihat sangat kontras antara tangga batu alam yang mengikuti kemiringan alami dari lanskap serta pelat beton yang bertulang tipis. Struktur ini mencakup lebih dari enam meter untuk membentuk kanopi.

Sebuah ruang shalat yang berada dalam Masjid itu terdiri dari beton berlapis yang cukup besar sehingga membentuk suatu pusat bangunan, sedangkan ruang tambahannya termasuk foyer, ruang sepatu penyimpanan dan tempat wudhu, disusun di sekitar ruang shalat.

Jamaah pria dan wanita di tempatkan secara terpisah dibatasi oleh layar hitam di ruang shalat. Layar hitam ini dibuat berlubang untuk memberikan privasi tetapi sangat memungkinkan para jamaah untuk mempertahankan kontak mata ke mimbar.

Ruang shalat utama di desain memiliki fitur lantai dan langit-langit beton berjenjang. Pencahayaannya  diatur di bawah lantai dan juga di celah langit-langit yang secara lembut menerangi ruang shalat tersebut.

Interior dari masjid tersebut di desain seakan berada di dalam gua. Tempat ini cukup dramatis dan sangat menakjubkan serta memberikan kenyamanan untuk berdoa dan mendekatkan diri dengan Tuhan," tambah Arolat.

Sebuah setapak berundak dengan profil bulat menciptakan podium untuk khatib di depan pintu. Sebuah tangga yang berada di balik pintu mengarah ke menara tinggi membujur, struktur dekoratif ini biasanya digunakan untuk mengumandangkan azan. Mimbar lainnya ada pada dinding hitam berdampingan, yang memisahkan anatara kamar mandi di ruang utama dengan frame ruang untuk pengkhotbah.

Masjid Sancaklar, ini telah rampung pembangunannya yakni sekitar tahun 2012  dan berhasil memenangkan bangunan ibadah terbaik pada ajang Festival Arsitektur Dunia tahun 2013. Masjid ini juga telah dinominasikan dalam Desain of the Year,yakni penghargaan tahunan yang digelar oleh Museum Desain di London.

Sumber : kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita