243 Sabtu, 20 Juni 2015 | 12:59:05

Tinggal Seorang Diri di Desa Yang Telah 25 Tahun Tenggelam

Tinggal Seorang Diri di Desa Yang Telah 25 Tahun TenggelamDaily Mail

Tahun 1920, didirikan kota wisata Villa Epecuen yang terbentang sepanjang pantai Lago Epecuen, pantai yang terletak sekitar 600 kilometer sebelah barat daya dari Buenos Aires, Argentina. Berdasarkan data pada tahun tersebut, Lago Epecuen memiliki kadar garam tertinggi diurutan kedua setelah Laut Mati, dan sepuluh kali lipat kadar garamnya dibanding laut manapun.

Karna kandungan alami itulah pantai Lago Epecuen terkenal sebagai tempat terapi dan telah populer kemana-mana. Legenda terbentuknya pantai itu karena air mata seorang Pemimpin yang menangis karena kekasihnya. Terapi yang dipercayai penduduk sekitar pantai tersebut dipercaya dapat mengobati penyakit rematik, depresi, penyakit kulit, anemia, dan diabetes.

Awal abad ke-19, mulai beberapa warga singgah di Villa Epecuen dan lama-kelamaan mulai banyak yang mendirikan tenda lainnya, dan keramaian itu pun terus berlanjut hingga Villa Epecuen berubah menjadi sebuah desa yang memiliki wisatawan yang ramai.

Saat dilihat kawasan desa Villa Epecuen mulai ramai, maka dibangunlah jalur kereta api yang terhubung dari Buenos Aries, Argentina. Dampak dari pembangunan kereta api itulah, membuat semakin membludak pengunjung yang datang ke Villa Epecuen, hingga banyak wisatawan dari berbagai negara dunia yang berkunjung. Hingga berdasarkan data yang tercatat pada tahun 1960 lebih dari 25.000 orang yang data setiap tahunnya, untuk berendam air garam yang berkhasiat itu.

Populasi pun memuncak. Pada 1970-an, desa ini memiliki penduduk lebih dari 5.000 jiwa. Hampir 300 usaha ikut berkembang, termasuk hotel, hostel, spa, toko-toko, dan museum.

Tak jauh dari waktu tersebut Villa Epecuen dilanda hujan yang berkepanjangan, hingga berlangsung bertahun-tahun lamanya, dan pantai Lago Epecuen pun meluap melebihi batu bendungan yang dibangun di sekitar pantai.

Tepatnya 10 November 1985 air menggenangi desa mencapai ketinggian 130 centimeter. Banjir tersebut terus meningkat hingga ketinggian 10 meter di tahun 1993, dan membuat desa tersebut benar-benar tenggelam.

Hampir 25 tahun kemudian, pada tahun 2009, cuaca basah berbalik dan air mulai surut. Vila Epecuen mulai terlihat kembali ke permukaan.

Namun, tidak ada satu pun warga yang kembali ke desa tersebut, kecuali Pablo Novak, pria berusia 80 tahun yang kini menjadi satu-satunya penduduk Vila Epecuen.

"Saya senang berada di sini, meski hanya sendirian. Saya membaca koran dan saya selalu berpikir tentang hari-hari kejayaan desa ini kembali ke tahun 1960-an dan 1970-an, " kata Novak.


Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita