104 Senin, 11 Mei 2015 | 12:29:19

Singapura Kota Disiplin Tak Ada Pembangunan Yang Serampangan

Singapura Kota Disiplin Tak Ada Pembangunan Yang Serampangankompas

Pencakar langit milik Indonesia setinggi lebig dari 200 meter di tahun 2014 lalu, boleh saja berada di atas Singapura namun bagaimana proses dari pembangunan pencakar langit tersebut dibangun. Infrastruktur pada bangunan ini dibangun tanpa menimbulkan adanya potensi gejolak sosial, ekonomi dan tanpa mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.

Pembangunan apartemen Highline Residences yang dibangun oleh salah satu pengembang raksasa properti di Singapura yaitu Keppel Land dibangun secara rapi. Apartemen yang berlokasi di kawasan Tiong Bahru, selama dalam proses pembangunan proyek ini dipagari seng yang bercat warna putih bersih. Disekitar area proyek juga tertutup rapat sehingga tidak ada satu celahpun yang terbuka dan tidak ada tanah yang berceceran mengotori jalanan disekitarnya.

Lahan parkir pun disiapkan untuk truk penganggut bahan bangunan serta alat berat. Truk pengangkut ini pun harus dalam keadaaan bersih ketika akan balik. Demikian halnya dengan proyek-proyek lainnya seperti proyek properti multifungsi Farrer Square di jantung kawasan Little India, atau sekitar Stasiun MRT Farrer Park, proyek untuk fasilitas sosial, proyek Mesjid Sultan yang berada di Kampong Glam, dan sedang direnovasi, semua proyek-proyek yang ada diSingapura dikerjakan secara rapi sehingga para wisatawan yang datang berkunjung ke Singapura tidak merasa terganggu dengan adanya pembangunan proyek-proyek yang ada di Singapura.

Di Singapura apabila didapatkan aktivitas proyek yang mengganggu pejalan kaki, lingkungan sekitar, sehingga  menimbulkan polusi, terutama debu, dan adanya ceceran material lainnya, maka pengembang dan kontraktor akan dikenai sanksi maksimal.

Adapun sanksi maksimal yang bisa dikenakan yaitu berupa pencabutan atas izin praktik jasa konstruksi. Oleh karena itu pembangunan di Singapura harus benar-benar disiplin, dan taat pada peraturan yang berlaku di Singapura.  Bahkan untuk mengecat ulang pun, tak boleh ada cat berceceran," tutup Bakaram, Jumat (8/5/2015).

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita