117 Jum'at, 08 Mei 2015 | 13:19:59

Berguru Pada Singapura Dalam Membangun Kota Cerdas

Berguru Pada Singapura Dalam Membangun Kota Cerdasgazettereview

Pada Konsferensi Asia-Afrika beberapa waktu lalu dipaparakan mengenai masalah perkotaan yang dibahas dalam tatanan politik Asia-Afrika. Banyak kota di kawasan Asia-Afrika yang terus berubah untuk meninggkatkan kualitas guna dapat lebih berbudaya, berdaya guna, dan bijaksana dalam hal pelayanan terhadap warganya.

Dapat diambil contoh dari kota di Indonesia yang sedang memperbaiki diri menjadi lebih baik dari sebelumnya, dalam penerapan konsep Smart City atau Kota cerdas yaitu Kota Bandung, dengan penghargaan ‘Kota Cerdas Asia Afrika 2015’ Bandung yang dipimpin oleh Wali Kota Ridwan Kamil dapat membuktikan bahwa apa yang dilakukan selama ini adalah upaya untuk maju.

Pemanfaatan waktu yang sangat tepat yang dilakukan oleh Kang Emil (begitu sapaan terhadap Wali Kota Bandung yang merakyat dan cerdas itu) pada acara besar pertemuan yang dihadiri banyak negara berasal dari Asia dan Afrika, ceremonial ini dijadikan strategi dalam menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia telah mampu melahirkan kota maju seperti Bandung.

"Inilah kesempatan Bandung untuk memanfaatkan posisi internasionalnya. Memiliki fasilitas kelas dunia dan akan ada saatnya nanti hal ini dapat mengubah perilaku dan harapan besar masyarakat Bandung untuk kota yang lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan," paparan dari Bernardus Djonoputro Ketua Umum Ikatan Ahli Perencana Indonesia (IAP).

Lain halnya yang dijelaskan oleh Bernardus "Namun masyarakat perlu berhati-hati dengan ungkapan kota cerdas atau smart city. Dikahawatirkan selanjutnya para pemimpin kota hanya fokus pada aspek aksesori yang memperindah kota saja. Khawatirnya jika klaim politis kota cerdas seolah hanya menjadi pembenaran, dan nantinya akan mengabaikan rencana pembangunan mendasar kota yang sesungguhnya," akan berdampak menjadi ubiquitous city saat kota dihadapkan dengan benturan digitalisasi yang kerap mencerminkan dunia yang instan yang dipicu oleh semakin maraknya media sosial dan internet.

Kota cerdas adalah lembaga, alat, atau infrastuktur kota yang berbasis teknologi, dan munurut Bernardus kecerdasan sebuah kota adalah manajemen dan perencanaan yang memberikan fasilitas ruang hidup yang aman, nyaman, dan tetap berkelanjutan, bukan hanya mengedepankan tujuannya saja.

Wali kota di Indonesia harus lebih menyesuaikan pelaksanaan pembangunan, produk rencana kota, pasrtisipasi swasta, dan program revitalisasi. seperti yang telah dilakukan oleh Singapura, Inheon, Barcelona, Eidhoven, Sogdo, dan kota-kota lain.

Berkaca pada Singapura kota yang dianggap paling dapat menjadi contoh yang baik, Kota ini menerapkan pelaksanaan pembangunan, produk rencana kota, partispasi swasta dan program revitalisasi yang berjalan seiringan.

Albert Foo, selaku General Manager Marketing Keppel Land, menjelaskan, Pemerintah Singapura memberikan kesempatan yang banyak kepada para swasta yang ingin mengembangkan sebuah kawasan dalam yurisdiksi yang terencana dengan baik dan jelas. Misalnya, Untuk mengembangkan Marina Keppel Bay. Pusat bisnis itu harus menerapkan dan mengikuti betul urban development guide lines (UDGL). Dengan diberlakukannya hal itu, kecil kesempatan terjadinya malpraktik konstruksi yang dampaknya akan menimbulkan permasalah seperti macet, banjir, atau tumpang tindih peruntukan. "Di Singapura segala sesuatunya akan terukur dan jelas, termasuk didalamnya membangun iklan untuk CBD baru supaya tidak terjadi malpraktik konstruksi yang berdampak menimbulkan macet, banjir, atau lingkungan yang rusak," imbuh Foo.

Negara betul-betul menjalankan perturan mengenai pengembangan dan perencanaan kota yang mengikutsertakan pihak swasta dan pemerintah kota. Begitu halnya dengan Singapura saat mengalami ledakan dan hampir gelembung properti, pemerintahnya telah sigap melakukan pendinginan.

"Hadirnya negara penting guna membuat keadaan, dan kondisi investasi terus dalam taraf lebih sehat, dan pengendalian pasar menjadi lebih teratur, dikarenakan semua hal yang berhubungan infrastruktur sistem telah direncanakan dengan baik," tambah Foo.

Terdiri dari pendidikan, transportasi, layanan publik, kebersihan, keamanan, kesehatan, hotel , pusat belanja, hingga rancangan-rancangan induk mengenai pengembangan perkantoran itu semua mencangkup 1600 aplikasi yang dimiliki Singapura yang berdasarkan pada sistem Kota Cerdas. Lain halnya dengan Bandung yang baru memiliki 300 aplikasi yang telah mengeluarkan dana sebesar Rp 25 miliar.

“Kota-kota di Indonesia tidak lainnya Bandung harus mempunyai lembaga yang berkelas Internasional guna mengatur Public Private Partnership (PPP). Dikarenakan, PPP akan melibatkan perusahaan pengembang properti, teknologi, dan pendanaan internasional, jadi mau tidak mau semua pemimpin di indonesia harus memiliki arahan ke sana," pertegas Bernardus.

Kota-kota Indonesia, tidak terkecuali Bandung, perlu investasi yang besar untuk mengembangkan infrastruktur dengan konsep Kota Cerdas seperti jaringan Informasi dan Komunikasi yang baik, kapasitas broadband dan server yang memadai, dan jaminan pasokan energi yang terkendali. Hal tersebut juga tak luput dari perhatian air limbah, air bersih, dan penataan kawasan kumuh.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita